RSS | Archive | Random

About



Compilation of many pieces from Ari Sri Wulandari Surjodiprodjo. 20 years old. 3rd grade medical student. An artistic & graphic director. A hysteric choir singer. A temporary photographer. A bad writer. An IFMSA trainer. A part of Supervising Council of CIMSA Unpad. A member of National Human Resources and Development for CIMSA Indonesia.

Exactly, not your usually type.

Following

27 May 12

This Year. Meeting May is Hard.

Gue hampir ga ngirup napas ketika gue mengganti kalender balok kayu gue yang selalu stay dengan setia di meja belajar kosan gue. Balok bulan April, sekarang digantikan oleh balok bulan Mei, which is… waktu gue sebagai mahasiswa S1 Kedokteran semakin pendek.

Kerasnya akademik berbanding lurus dengan pendeknya waktu menuntut ilmu. So… you know what I mean.

Contohnya skripsi deh. Gue harusnya maju sidang Usulan Penelitian tanggal 14 Mei kemarin. Draft gue belom beres, bahkan judul gue ga jelas juntrungannya mau kemana. Maka kelompok gue pun berinisiatif untuk menukar urutan sidang gue menjadi minggu kedua. God bless C4-GUS, karena ternyata judul gue baru fix banget sekitar tanggal 8 Mei, which is gue harus mengulang bab I, bab II, dan terutama bab III gue karena gue pindah konsentrasi penelitian dari Departemen Orthopedi dan Traumatologi ke Departemen Bedah Urologi.

Anyway, tanggal 8 Mei judul gue diganti… Dan tanggal 9nya gue ikut jadi tim lomba PSM FK Unpad. Maydrasia. Latihannya? Sebulan lebih. Dan setelah gue bimbingan tanggal 8 itu, malamnya gue full latihan sampai jam 11 malam. Besoknya latihan lagi dari jam 8 pagi sampai menjelang lomba. Abis lomba? Gue tepar.

Tanggal 14 Mei, draft UP harus dikumpulin dan gue baru dapet referensi buat bab III 9 jam sebelum deadline pengumpulan. Tau dong rasanya apa jadi gue? Kebuts! Akhirnya, gue menyerahkan draft UP gue tepat waktu dan sudah terjilid manis dengan mika putih transparan serta tidak lupa tandatangan dombing I di lembar pengesahan (kebetulan dombing II gue lagi pergi ke luar negeri). Leganya parah.

Lembar cover dan pengesahan draft UP gue

Selanjutnya… gue dihadang masalah pencalonan nasional untuk jadi HRD Director di CIMSA Nasional. Merasa ga pede dengan hasil nilai oral interview yang dilakukan oleh Kak Muhammad Fahriza (Ai), HRDD 2010-2011 pada saat gue sakit flu parah dan juga saat itu dalam keadaan memaksa diri untuk mengejar selesainya draft UP gue, maka gue pun menyiapkan strategi dengan membuat slide dua hari sebelum pencalonan di May Meeting 2012 bertempat di Cibubur - Jakarta, sematang mungkin dan tentunya sesuai dengan pribadi gue: sesimpel mungkin. Berbekal pinjeman internet dari Pynkan Lafanda, gue kebut bikin Prezi dalam 30 menit saja, 15 menit awal habis untuk membuat template. Bahkan siap sedia juga pointer yang kece, yang bisa maju mundurin slide sendiri. Ciamik dah.

Kak Ai yang lagi ngobrol sama Inoy, LOCO UIN. Serem amat sih muka :/

Gue baru bisa berangkat hari Jumat pagi… karena ternyata gue harus ngurusin masalah batchbook dan slide presentasi UP gue sendiri. Di Kamis malam gue iri sama tweet-tweet tentang welcoming party, bersikeras datang pagi ke Jakarta, pesanlah gue travel yang jam 5 pagi. Mungkin karena gue kurang amal juga kali ya…. GUE BERANGKAT JAM 04.50 DARI RUMAH GUE DI CIJERAH MENUJU PASTEUR. Si Komo aja tau itu ga mungkin kekejar, tapi yang gimana lagi bos, man jadda wa jadda, ngebutlah Mbak gue. Alhasil.. tetep aja gue ditinggal travel. Ngok. -_-

Akhirnya gue memutuskan untuk naik yang jam 6 pagi. Emang Allah Maha Berkehendak ya, di travel tersebut didudukanlah gue bersebelahan dengan cowo ganteng dan ramah. Kamsiah ya Allah (diem-diem gue terharu ngelirik-lirik sambil baca Supernova: Partikel).

Gue nyampe venue jam 9 pagi dilanjut sama reunian kecil. Reunian sesama trainer IFMSA lulusan TNT Indonesia. Acaranya mau mulai grand lecture nih. Yaudah deh gue ikut GL, tapi 1 jam kemudian gue ga kuat karena raga gue masih cape banget dan akhirnya memutuskan untuk bermanja-manja di kamar Tita sambil ngomongin pencalonan.

Lanjut setelah itu lunch yang lagi-lagi diikuti oleh reuni kecil-kecilan. Setelah lunch, gue beranjak ke HRD session dan ketemu serta berkenalan sama HRD lainnya yang manis-manis nyebelin :p. Ketika gue lagi asik-asiknya HRD session, gue ditelepon sama Andro, SC CIMSA sekaligus ketua tim independen, untuk melaksanakan ujian tertulis sebagai kandidatur. Larilah gue, wooooosh. Dan duduklah dengan manis di belakang Andro. Dengan muka nistanya, Andro pun kasih soal….. dan itu SUSAH. -_-

Andro, Kak Pipit, dan Marle duduk sebagai Supervising Council CIMSA 2011-2012

Beres ujian, Plenary Session kedua berlangsung, gue masih cengar-cengir. Udah menjelang break maghrib, gue deg-degannya kayak nyawa mau diambil malaikat. Saking stresnya gue, gue gigit tangannya Tita. GRAOOWP! Stres banget gue aseli. Muka gue sampe stress dan keliatan sama orang-orang, terutama Eep. Ini manusia emang paling tanggap sedunia sama keadaan gue. Berusaha sedikit melucu lah setidaknya doi.

Dan akhirnya break udah selesai, lanjut project fair, dan selanjutnya datang juga saatnya hasil dari interview. Nilai gue….. ternyata not bad. Ai baik juga ngasih nilai. Setelah keluar hasil interview, maka saatnya presentasi kandidatur. Sesuai abjad, Rika duluan, baru gue. Ketika nama Rika dipanggil, I hugged her and gave her a support. Gue gamau gue sama dia clash cuma gara-gara saingan jadi kandidat doang, gue ingin yakinin kalo siapapun yang kepilih di antara kita berdua itu adalah kebetulan yang beruntung.

Stand Patch Adam & Cimpanse Unpad di project fair

Dan Rika pun presentasi…. Gue menunggu di luar. Bolak-balik kayak setrikaan. Gelisah. Sejujurnya gue masih bisa nguping mendengar presentasi Rika dan makin gelisah. Untung anak itu keren presentasinya, kalo engga gue makin gelisah. Rika beres presentasi dan gue pun dipanggil. Ketika gue akan presentasi……

PREZI GUE GA BISA DIBUKA. DAFUQ.

Gue memandang Khaled sang ketua presidium. Khaled ngerti dan memberikan reses 3 menit. Gue dan Tita lari ambil laptop gue ke gedung sebelah dan memasangkannya secepat mungkin. Di perjalanan Tita mencoba membuat gue tidak panik dan herannya…… Gue sama sekali tidak panik. Gue santai dan bahkan sempet minum air yang dikasih sama Khaled *sumpah baik banget*. GYAA.

Aan dan Khaled, duo babi hutan dari Aceh sana :3

Akhirnya presentasi bisa dimulai. Gue presentasi seadanya. Sekalem-kalemnya gue. Tumben banget ga cacat. Bahkan waktu gue distop presentasi karena waktu habis, gue tidak meminta waktu lebih. Gue sudah pasrah. Ditanya SC, EB, dan satu SCO pun pasrah apa adanya, sesuai yang ada di otak gue. Bahkan kata “penghitungan dengan SPSS dengan Wilcoxon Signed-Rank” yang ingin gue tahan-tahan agar ga keucap, keluar dari mulut gue. Njeng.

Presentasi selesai dan gue keseeeeeeeeel banget, meskipun orang-orang pada bilang itu bagus. Dari Kak Ai, Ijhe, bahkan Eep. Kwesal karena gue tadi terlalu pasrah kali ya ga minta perpanjangan waktu. Tapi overall kata mereka-mereka, gue berhasil memikat mereka dengan ketenangan gue :3

Plenary Session (PS) baru beres jam setengah 5 pagi. Gue yang asalnya berniat untuk tidak tidur, langsung berniat mengecas laptop dan handphone di depan kamar Tita. Yang terjadi adalah… gue ketiduran sambil meluk laptop dan hp, sampe akhirnya Tita nyuruh gue tidur di kamar.

Sadar ga sadar, gue pindah ke kamar dan terlelap hingga…… handphone gue bergetar. Ada SMS dari Cendy bilang kalo Sam udah dateng…… dan gue baru sadar itu jam 11 siang. OW! Gua lari kalang kabut, mandi, dan segera turun ke ruang makan. Kemudian… nyengir-nyengir bajing, ngobrol basa-basi sama Adis HRDD CIMSA UA, dilanjut ketemu kangen-kangenan sama Kak Sam :3. Sayangnya cuma bentar. Udah beres makan siang, gue males ikut SCO-sess dan malah berakhir dengan ngegosip bareng Winda dan Kak Ai. Sampe jam 3 sore.

PS dimulai jam setengah 4, agendanya…. untuk memilih para kandidat. Gue deg-degan mampus. Sampe akhirnya muncul giliran penghitungan suara untuk kandidat HRDD. Gue sama Rika keluar dari ruang sidang dengan setelan raglan CIMSA yang sama. Kita berdua di luar sama-sama deg-degan sementara yang lain menghitung suara, tapi ga peduli siapapun yang jadi kepilih. Semuanya tetap akan saling bantu.

Sampe akhirnya kedengeran gemuruh tepuk tangan dan gue plus Rika disuruh masuk. Kaukus 4 (tempat lokal gue berada) dan Kaukus 5 (tempat lokal Rika berada) mukanya sama-sama tegang. Gue takut, hingga akhirnya dibisikin hasilnya sama Cendy.

15 suara sah. 7 suara in favor pada kandidat satu. 8 suara in favor pada kandidat dua. Tidak ada suara against dan suara abstain.

Dan gue…….. adalah si kandidat dua. Gue menangis dalam hati. Gue terpilih dengan asas simple majority.

Akhirnya, “Motion passes nemo contra” pun terdengar di Mosi ke 40-sekian dengan seconder kaukus 1. Gue sah memegang amanah sebagai HRD Director CIMSA 2012-2013.

***

Setelah pulang dari Jakarta, di kampus ternyata banyak hal rumit yang juga harus diselesaikan oleh gue. Gue harus menyelesaikan slide sidang UP gue segera karena gue diuji pada hari Seninnya langsung. Kemudian gue harus rapat pengurus angkatan, rapat panitia Batchbook sekaligus menyortir portofolio para fotografer dan graphic designer selaku sekretaris. Rapat dengan Official terpilih. Dapat undangan juga untuk seminar dengan organisasi lainnya. Pre-test dan siap-siap untuk KKN di desa Bojong Genteng, Sukabumi. Jangan lupa juga ada UAS sebentar lagi dan gue harus belajar 2 sistem.

Bulan Mei. Bulan terberat gue. Jelas.

Tapi gue hanya bisa bersyukur.  Alhamdulillah. Semuanya insyaallah akan bahagia di akhir. Amin.

Gue bersama delegasi dari CIMSA Unpad :)

Sincerely,

Ari Sri Wulandari Surjodiprodjo

Elected Human Resources and Development Director CIMSA Indonesia 2012-2013

10 May 12

Tuhan.

  • (masih ngelanjutin omongan tentang Sekulovisme)
  • Ari: "Ketika manusia diciptakan, diciptakan pula takdir hidupnya serta pasangannya Duy. Cuma itu yang aing pegang."
  • Aduy: "Nah itu, Ri. Ga ada yang tau itu siapa kan? Siapa yang tau aing sebenernya jodoh sama temen SMA aing? Siapa yang tau aing sebenernya udah ketemu jodoh aing? Siapa yang tau aing bakal ketemu jodoh aing di luar negeri?"
  • Ari: "Siapa yang tau jodoh maneh sebenernya aing?"
  • Aduy: "Nah!"
  • Ari: "Yang tau cuma Tuhan, Duy."
Posted: 4:40 PM

Apa Benar Patut Dipisahkan?

  • Aduy: "Aing masih ga mengerti sama konsep jodoh. Ri."
  • Ari: "Tah eta! Aing juga Duy."
  • Aduy: "Maneh tau darimana kalo orang itu jodohnya maneh coba? Apa lebih bersinarkah? Atau apakah?"
  • Aduy: "Aing memisahkan cinta dari kehidupan aing."
  • Aduy: "Kalo Sekularisme mah memisahkan agama dari kehidupan...... Maka kalo aing mah penganut paham SekuLOVE-isme. Memisahkan cinta."
  • Aduy: "Tapi rada maksa oge sih Sekulovisme. HAHA."
  • Ari: *tempeleng Aduy*
24 April 12

Biar Handphone yang Berbicara

“Cklik klik..”

*Open Messaging*

*Create Message*

To: Nareswara Anugrah Widi

Hal bego hari ini: gue gabisa ikut CM HRD terus mau SMS minta digantiin sama lo. Gue lupa kalo kita udah pensiun… :/

*Send*

“Drrrrrt… drrttt..”

*1 New Message*

From: Nareswara Anugrah Widi

Hahaha, yaampun riii *peluk* kocak siah ini. Wkwk

*Reply*

To: Nareswara Anugrah Widi

*Peluk balik*

*Menaruh handphone di meja*

***

Baru kejadian siang hari ini (24/04/2012). Secara tidak sadar, gue kangen hubungan kerja VLI-HRD Director sama Iwang seperti zaman dahulu :’(

Dan juga gue kangen kerja sama Internal Team. Macem Riris, Juju, dan Hanseur.

We Are What We But

by: Tb. Andhika Nugraha


We are what we are. What we eat, what we wear, what we listen to.

We are who we are, according to our own various definitions. But we have always been who we have been, it is the what of ourselves that has changed.

The past, my friends, is more than just words on a history textbook, negatives attached to the back cover of a photo album, or frames of a home video.

The past, I believe, is the reason for what we are today. Or rather, a collection of reasons that make up the person that we have become this very second.

Every word that we have spoken. Every angle that we have seen. Every moment in our memory. Every person that we have met, from the people that we once considered dearest to us to those that we have erased our hatred upon. Every feeling that has come to our hearts. Every smile, every laugh. Every frown, every cry. Every prayer that we have hoped on. Every belief that we have held to.

Every right that we have done. Every wrong that we have regretted.

All of these things cumulate into what we and other people see of ourselves today.

But do not get me wrong. We are not what we have been.

I believe that people change. I believe that what we are today will never be equal to what we were yesterday, but I believe that what we are today is only so because of the days prior to today.

What seemed such a good thing back then might be such a mistake today. What seemed to be roses back then might just be thorns today. What seemed to us as love back in the days, we might consider that to be puppy love today.

I believe, memories are not to be forgotten. I believe that is why mankind invented things like photo albums and iPhoto. I believe that is why Facebook exists.

But I also believe that life is not just about remembering the past.

Life is about living.

Living for today. Dreaming for tomorrow. And everything in between.

Jelas. Gue kangen sekali dengan Official CIMSA Unpad 2011-2012.

Yes, we are what we but.

Hem. *balik ngerjain skripsi*

14 April 12

Rambut

Novie, Cendy, Raisha, and Me on Opening Olymphiart “EMPEROR” 2012 at A6 Building’s Car Park.

This photo is taken by Tiara Ayu Murti. Thank you, Hobbit-girl :)

Dua minggu yang lalu, gue memutuskan untuk memangkas rambut gue yang sudah seperti medusa dan tentunya ga keurus. Dan motongnya ga kira-kira. Sekarang pelintiran ikal rambut gue sudah tandas dan hanya menyisakan bob sekuping.

Semua orang bilang gue nekat.

Dan gue melanggar janji gue. Salah satunya.

Gue yang 17 tahun berambut tidak pernah lebih dari sedagu dulu sewaktu kuliah akan berjanji dalam hati tidak akan memotong rambut lebih dari sedagu. Karena waktu kuliah adalah waktu kebebasan gue. Gue baru bebas memanjangkan rambut waktu SMA kelas 2. Sampai kemarin-kemarin gue sukses sampai punya rambut setengah punggung. Mempunyai rambut yang panjang dan bisa digelung adalah salah satu rutinitas favorit gue sendiri setiap paginya.

Lalu? Kenapa gue nekat melakukan hal ini?

Ya, gue menyadari sesuatu. Gue gerah akan komitmen masa lalu.

Menurut gue, sebuah komitmen tidak selalu harus dipertahankan. Namun dapat diperbaharui, sesuai kapasitasnya.

Ternyata hal itu yang menggerakkan gue untuk iseng ke sebuah salon yang gue sendiri baru datangi pertama kali.

Ya, tanpa pikir panjang. Gue hanya ingin memperbaharui diri gue. Itu saja. Titik.

***

ps. Beragam komentar sudah dilayangkan. Mulai mirip Shimura Mari, Jaiko adeknya Giant, Dora, Pacarnya Boboho, rambut headphone, mirip dosen pembimbing gue, Cleopatra, setengah lelaki (ini komentar dari Rangga yang menurut gue paling najong sedunia), dll. Yasalam.

29 March 12

Masih. Tawar.

Saat postingan ini diketik, gue sedang persiapan Final Test Gastrointestinal System. H-14 jam. Dan gue baru saja balik dari kamar Ilma. Lalu teringat sesuatu.

Ketika rapat Mangkok beberapa hari yang lalu, gue baru saja “dianugerahi” suatu gelar oleh Ruby. Manusia tergalau di Mangkok, setelah Ruby sendiri. Lalu ga berapa lama kemudian, Iwang tertawa terbahak-bahak. Dan gue sendiri pun cuma masang tampang asem.

Ga salahnya banget nget nget sih. Gue emang saat itu lagi galau kok.

Galau akan memutuskan masa depan gue bagaimana.

Gue yang kini sudah terhitung sebagai pensiunan berbagai macam organisasi, mulai khawatir. Pertanyaan yang gue takutkan semenjak gue menaruh fokus di salah satu bidang akhirnya muncul…

“Setelah ini, mau apa?”

Mau apa? Gue pun mengetuk pintu hati sendiri. Jawabannya: kosong.

***

Alter-ego gue berkecamuk. Ada keinginan diri sendiri untuk meraih tempat lebih tinggi, tapi akal sehat gue melarang.

“Skripsi lo apa kabar, Ri? IP lo emang udah bagus? Emang siap buat maju ke depan? Apa yang bakal lo bawa nanti, Ri? Perubahan apa yang bakal lo lakukan kalo maju? Lo masih mau jadi dokter kan?”

Gue rasa, gue udah mulai schizophrenia. Ini sekarang gue udah bicara sendiri dalam keadaan ga santai ke tangan kiri gue.

***

Oke. Tangan kiri gue… namanya Rangga. Realistis, jelas sekali. Dia sendiri punya fungsi pasti dalam kehidupan gue saat ini, sebagai benang gelasan. Menarik gue agar tetap ingat sama yang namanya tanah. Yang jelas, dia satu paham sama akal sehat gue.

“….. Mei ini kamu ada LPSMAF (Lomba Paduan Suara Mahasiswa Antar Fakultas), itu pun deket UP.”

“Nah, majunya Mei kan? Skripsi gimana? IPK? Mau ambil spesialis kan?”

“Terserah tapi jawabanku sih ENGGA, Ri.”

Akal sehat vs. Alter-ego: 1-0.

***

Kali ini gue bicara pada tangan kanan gue. Salah satu sahabat baik gue. Dari segala yang gue tanyakan ke dia, dia cuma bilang, “Kalau ga suka sama sesuatu, ya buatlah perubahan baru jadi lo suka. Apa yang lo cari buat hidup ke depan? Jangan risau.”

Kata-kata yang menghipnotis gue: Jangan risau. Apa mau lo. Alter-ego gue teriak kegirangan.

Akal sehat vs. Alter-ego: 1-1.

***

Kali ini gue frustasi. Sebagai orang yang perceiving, jelas gue udah ga bisa mengeluarkan kata-kata. Bengong terus selama rapat Mangkok. Sampai akhirnya Iwang yang puas ngetawain gue tadi pun menawarkan pulang bareng ke Jatinangor dan bertanya, “ada apa?”

Ada apa? Ada jiwa gue yang sedang tidak sehat, Wang. Gue berteriak lirih dalam cengkraman kebisuan. Jelas gue capek.

Akhirnya gue buka semuanya, dari masalah akademik, masalah PSM, sampai hal terkecil…. sampai latar-belakang kenapa kepribadian gue seperti ini. Mudah iri & posesif. Selalu cari perlindungan. Dan entah kenapa, suara gue berubah jadi parau dan berujung tangis.

Dasar cengeng.

Iwang yang jelas sedang nyetir pun berusaha membukakan dashboard yang ada di depan gue (yang padahal gue sudah sangat hapal di situ tempat Iwang naro kotak tisu) sambil tetap menyetir dan secara otomatis gue ambil tisu. Maafkan Ari Sri Wulandari, ya Allah, resolusi untuk bawa saputangan tiap hari biar Go-Green gagal mulu.

Dead-air 3 menit. Dan suara gue masih parau. Payah sekali.

***

(Menit ke-4 Dead Air)

“Ri…”

“Ya?”

“Kalau menurut gue, manusia itu bakal beradaptasi kok, makanya bisa hidup. Apapun keputusan yang lo pilih. Meski ga otomatis, tapi lama kelamaan pasti bakal adaptasi.”

***

Gue menyadari sesuatu.

Mungkin sebenarnya gue hanya takut untuk memasuki dunia baru. Kedua pilihan yang berlomba-lomba diajukan oleh pikiran gue semuanya memaksa gue untuk keluar dari zona nyaman gue sekarang.

Lalu apa kata Tuhan? Let you decide your own fate.

Kini gue pun hanya bisa meringis dan meminum seteguk teh songket beraroma mangga yang baru gue seduh dengan hasil malak air anget dari kamar Ilma tadi. Rasanya? Masih tawar.

Meski hati gue sekarang sudah tidak sekosong tadi.

23 January 12

Deepest

Liburan kali ini… Apa ya sebutannya?

Tugas gue menumpuk dengan Maha Dahsyat. Mulai dari kewajiban gue menunaikan LPJ karena masa jabatan menjadi HRD Director akan berakhir, kewajiban mencari generasi penerusnya juga dengan cara mencari sistem yang terbaik pula, kewajiban sebagai trainer NLS 2012 untuk memahami materi sedalam-dalamnya, kewajiban sebagai tim HRD nasional untuk membuat guidebook suatu materi.

Dalam waktu libur cuma 10 hari. Efektif 7 hari saja, karena 3 hari terakhir Team Official Meeting (TOM) terakhir akan berlangsung di Royal View Ciwaruga. Yang benar saja?

Workaholic, eh?

Mungkin. Ga ada yang salah sama julukan dari sepupu gue satu itu. Gue ga keberatan karena emang pribadi gue yang emang ga bisa kalo ga ada kerjaan.

Hobi nambah kerjaan, eh?

Gue selalu ga bisa ngeles dari kata-kata sang ketua PSM FK Unpad masa jabatan 2012 kalo masalah ginian. Dia selalu dalem kalo ngatain hal ginian. Udah berjuta kali gue stres sama kerjaan gue dan dia udah maklum. Gue selalu ngeles dari kata-kata si Mas’e tentang satu ini dengan alasan: Mumpung dikasih kesempatan. Terus katanya dia: Kerjaan sih kerjaan, tapi mikir kapasitas juga sih. Dasar ga bisa nolak *sambil kepalanya melengos*. Oke, itu ndalem.

Ah gue harus cari kata-kata sendiri.

Mungkin liburan kali ini… penuh dengan rasa iri?

Terutama waktu melihat postingan di dashboard Tumblr, timeline Twitter, timeline Facebook teman-teman gue pada liburan bareng temen-temen atau keluarga… Atau liburan sendiri. Memanjakan diri sendiri, baik badan maupun pikiran. Menuntaskan rasa penasarannya. Berkunjung kemana sesuai keinginannya.

Gue cuma bisa iri.

Gue tau iri itu macem penyakit hati, dipelihara ga boleh, dipikirin pun bikin pengurangan ATP dengan sia-sia. Gue tau gue udah 20 tahun. Gue tau ini adalah hal yang ga dewasa.

Tapi boleh dong sekali-kali gue iri? I need a real holiday too :(

Kapan terakhir gue keluar kota / menjelajah kota sendiri dengan alasan benar-benar mau liburan, ga pake embel-embel meeting ato rapat ato emang sekalian beresin kerjaan ato emang dalam rangka lebaran? For those 2 years, never. Yes.

Facing the reality, I’m a risk taker. It’s my own risk.

You’re so childish, Ri.

22 January 12
Poster CIMSA Get-Off 2012 yang gue bikin setelah idenya mandek 1/2 hari.
Ga kerasa udah mau turun jabatan lagi (padahal udah masuk masa perpanjangan jabatan). Ternyata gue sudah tua. Semester depan udah jadi angkatan yang paling tua. Sedih -_____-

Poster CIMSA Get-Off 2012 yang gue bikin setelah idenya mandek 1/2 hari.

Ga kerasa udah mau turun jabatan lagi (padahal udah masuk masa perpanjangan jabatan). Ternyata gue sudah tua. Semester depan udah jadi angkatan yang paling tua. Sedih -_____-

7 January 12

Do The Promise

I do my promise. Gue telah SOOCA dan inilah postingan terbaru tentang gue.

BTW, bagi yang gatau SOOCA itu apa sebelumnya bisa dibuka postingan yang ini :)

SOOCA yang keenam kalinya rasanya…. Kacau. Cara belajar gue yang kacau ditunjang dengan situasi rumah gue yang sedang cukup kacau juga. Ga ada pembantu. Selama liburan natal yang ada gue berubah jadi Sp.RT. Spesialis Rumah Tangga. Dari nyetrika sampai gosok kamar mandi, dari jaga apotek sampai ngejemur pakaian. Hidup memang berat. Sempat ada rasa penyesalan pulang ke rumah waktu libur natal kemarin… tapi yah udah terjadi juga sih ya, jadi gue ikhlasin aja sih, itung-itung amal ibadah juga (padahal sempet ngeluh luar biasa). Toh kalo gue ga pulang waktu liburan natal juga, mana bisa gue nontonin si Rangga perform di salah satu mall di Kota Kembang ini? Mau liat dia nyanyi di Jatos? Jangan harap.

Jadi… Pada saat itu, gue balik ke kosan dengan otak hampa karena ga bisa belajar sedikit pun. Yang selesai di tangan gue cuma homework Lab Activity aja, yang lainnya musnah blahblahblah. Gue malu SOOCA tinggal seminggu lagi dan otak gue layaknya lagu Homogenic yang baru, Seringan Awan. Sementara yang lain seberat batu bata kali ya kepalanya. Akhirnya seminggu itu gue hajar abis-abisan ngejar materi SOOCA.

Sehari sebelum SOOCA, ada Final Exam Public Health Oriented Program (PHOP). Kacau banget gue sampai ngorbanin ga belajar untuk ujian akhir mata kuliah yang paling gue suka selama kuliah di FK Unpad ini. Cuma demi SOOCA. Kacau. Gue pun bertekad PHOP gue nanti harus gue perbaiki di Comprehensive Exam nanti. Setelah Final Exam PHOP itu berlalu, gue mengurung di kamar. Belajar. Dari posisi duduk sampai posisi headstand. Cenderung gila.

Akhirnya SOOCA datang. Gue kebagian kloter siang, jadi sempet sarapan dulu. Sarapan dengan sup ayam malah membuat gue semakin mual & palpitasi. Yang ada setelah sarapan, gue malah tepar selama 1 jam tidur karena perut gue yang masih mual. Moral story: Besok-besok dapet kloter pagi aja deh ujiannya. -_-

Sebelum berangkat SOOCA, gue telpon Mamah, yaah karena gue anak berbakti pada orangtua & percaya sesungguhnya ridho orangtua itu selalu mengiringi anaknya. Terus nangis. Yah cengeng. Tapi tetep life must go on, Cing! Gue tidak gentar menghadapi SOOCA.

Kloter ketiga dan gue mendapat nomer 24. Nomer terakhir dari kloter tersebut. Hampir aja gue turun ke kloter selanjutnya, which is buang waktu lagi. Akhirnya gue menuju ruang isolasi di Lab Anatomy. Gue masih kalem. Sekitar 1,5 jam kemudian (karena kepotong waktu istirahat, siaaal), gue baru dipanggil lagi untuk pindah ke ruang isolasi selanjutnya di ruang tutor tingkat 1. 5 menit awal, gue masih kalem. Masih mengulang pat-pat segala penyakit bareng sama Dwika. 5 menit selanjutnya? Uh oh! Gue merasa ngantuuuuk yang ekstravagant. Udah luarbiasa ga ngerti lagi. Di saat Icha bilang dia GCSnya 20 karena tachycardia, gue GCSnya udah hampir dibawah 10 karena somnolent (BTW, buat yang gatau GCS itu apa, GCS itu Glasglow Coma Scale yang artinya silahkan googling sendiri). Ngantuk banget. Gue sampe dibilang anomali sama temen-temen kloter gue. Kata mereka, “bisa-bisanya….”. YA BISA LAH CING, KAN KURANG TIDUR TADI MALEEEEM! *ngamuk* (maaf gue emang agak sensitif soal tidur, kalo tidur kurang bisa ngamuk seharian).

Terus gue masuk ke ruang analisis kasus (katanya sih 30 menit), sebelumnya dikocok dulu sih dapet case apa. Karena gue dapet urutan paling akhir, ya dapetnya sisa. Kasus K. Pas nyampe di meja, ternyata Cardiac Tamponade due to Extrapulmonal TB.

Nih kenapa Cardiac Tamponade bisa bikin masalah di Jantung…

Penampakan klinis Cardiac Tamponade…. pada jantung sapi, muhaha! Yang manusia lebih ngeriiii!

3 menit pertama bengong.

2 menit selanjutnya, baru ngeeeeeeeeh! HADUH GINI NIH KALO ARI SRI WULANDARI SURJODIPRODJO KURANG TIDUR, OON-NYA GA KIRA-KIRA!

20 menit selanjutnya, grasak-grusuk bikin flipchart sampe ketiup angin dan terbang ke mejanya Acis (huahaha, ajaip).

5 menit selanjutnya, bengong. Perasaan udah semua deh ya gue bikin flipchartnya. Mind maping udah, basic science udah, patogenesis & patofisiologi juga udah, meskipun gak rapi. Kok jadinya Cuma 3 lembar ya? Biasanya gue bisa sampe 5 lembaran. Nengok ke mejanya Acis malah makin bikin keder. Ada kali ya itu 8 halaman lebih. Akhirnya gue memutuskan untuk membuat flipchart Case Review… di 1 menit terakhir HUAHAHAHA.

Terus masuk ruangan. Terus gue kayak hilang ingatan gitu memori selama 20 menit SOOCA itu ngapain aja. Gue sih sudah mencoba sepedebagong-nya gue. Terus bunyi bel. Terus keluar, nunggu hasil. Sempet ngobrol sama Bang Azis sama Syahla. Terus… dipanggil deh sama penguji.

Disuruh beres-beres flipchart. Pas gue lagi nyabut flipchart kedua, salah satu dosen penguji gue bilang gini, “Kamu dapat nilai segini yah (nyebutin angka)”.

Terus gue freeze selama 30 detik. Gue seakan tersambar petir. Kaget.

Nilainya… tidak seperti yang gue harapkan. Tapi setidaknya masih lulus sih.

Terus kedua dosen penguji gue menyebutkan alasan kenapa gue patut mendapatkan nilai segitu. Terus gue manggut-manggut bego. Udah berasa jiwa gue luruh ke dalem episentrum bumi. Untung gak sampe epilepsi. Dan dalam hati gue, kata-kata hati gue pun bergaung…

“APA?????!!!!”

***

Singkat cerita, setelah mengucapkan terimakasih kepada kedua penguji gue, gue pun melenggang keluar ruang ujian. Terus ketemu sama Dokter Koordinator Tahun gue (tahun 3) yang terhitung sering nutorin gue. Beliau nanya, “Gimana, Ri?”

Gue cuma bisa tersenyum dan bilang, “Yah segitulah, Dok. Alhamdulillah lulus…”. Beliau hanya mengerenyitkan kedua alis, seakan tidak puas dengan jawaban gue. Lalu gue masih dengan tersenyum bilang, “Duluan Dok, mau pulang. Assalamualaikum”. Lalu dengan langkah berat gue menuruni anak tangga dengan hati yang kacau.

Tau teori tentang Grief-nya Elisabeth Kübler-Ross ga? “Menerima sesuatu” itu terdiri dari 5 tahap. Denial à Bargaining à Anger à Depression à Acceptance. Mungkin waktu ditanya sama Koodinator Tahun gue, gue sudah memasuki tahap keempat, setelah tahap 1-3 terjadi ketika dosen penguji gue bilang akumulasi nilai gue sampai saat gue menutup pintu ruangan dengan sedikit “keras” dan “agak dibanting” (emang susah ditutup pintunya kok, serius). Terus apa yang terjadi? Pada saat gue menunggu teman-teman grup tutor gue, D2-Respi, yang sekloter sama gue di AG, gue masih dalam tahap depresi. Sampai Dwika datang dan mengabarkan kabar buruk. “Bang Azis ga lulus…”

APA?

Padahal Bang Azis dapet case Tension Pneumothorax. Case yang gue idam-idamkan sepanjang masa. Gue gatau apa yang membuat sampai Bang Azis yang pintar itu ga lulus, tapi gue sangat yakin waktu tutorial case ini, Bang Azis benar-benar memperhatikan. Dan mengerti. Gue gatau mau ngomong apalagi. Makin depresi gue.

Gue berjalan lunglai ke kantin. Masih macem depresi tapi balik ke fase 1-2-3 lagi. Jadi kalo kata Ari Sri Wulandari Surjodiprodjo sih ya, teori grief itu ya alurnya 1-2-3-4-1-2-3-4-5. Udah depresi, masih ga percaya, terus bertanya-tanya, terus kesel, lanjut depresi lagi. ORANG GILA. SAKIT JIWA. Sampai akhirnya gue ketemu Fatya yang mukanya bete juga, Terus cerita-cerita, ternyata! Si Tya ini juga dapet case & penguji yang sama… dan nilai doi pun ga jauh beda dengan alasan yang sama.

Teori Ari Sri Wulandari Surjodiprodjo selanjutnya: “KETEMU TEMEN SENASIB à BARU SAMPAILAH KE TAHAP ACCEPTANCE”

Baru deh gue bisa nerima terus nyengir lagi hahaha. Ternyata si Tya juga asalnya bete banget dan setelah ketemu gue jadinya malah lega dan menerima. Ya sudahlah, mau diapain lagi toh. Mau dikeselin juga nilainya ga bakal berubah ini.

Setidaknya 1 minggu ujian udah kelewatin. CUMUNGUDH TINGGAL 2 MINGGU LAGI KAKAK!

Oh ya, by the way….. SELAMAT TAHUN BARU 2012! (maaf ya gue baru tahun baruan tanggal 3 kemarin abis SOOCA, soalnya keki New Year Eve-nya malah dipake belajar SOOCA, sementara orang-orang dar-der-dor nyalain petasan & kembang api, terus terompet).

 

Sincerely - Yang sedang sakit jiwa karena UAS,

Ari Sri Wulandari Surjodiprodjo - “NPM LIMA TUJUH DOOOK! YOI DONG!”

 

Ps. Kemarin siang, pas abis Comprehensive Exam PHOP (akhirnya gue belajar & menebus dosa), gue dan temen-temen tutorial gue (D2-Respi) beliin Dunkin + Sop Buah Saus Lemon + Keripik Karuhun buat nyemangatin Bang Azis yang masih harus belajar buat remedial SOOCA di hari Jumat hari ini. Lucunya, niatnya mau surprise, tapi dasar emang ya si Bang Azis ngilang-ngilang mulu. Dikirain masih di kampus, taunya udah cabut keluar kampus. Dikirain udah di kosan, taunya gak ada -_-. Bikin keki dicari kemana-mana ga ketemu. Tapi akhirnya, doi digrebek lagi makan di Bebek Jegeg & mukanya mau nangis terharu pas kita dateng bawain makanan (meskipun sambil setengah marah-marah karena doi susah dicariin). Hihi, Bang Azis lucu ya J. Semangat SOOCAnya ya, Bang!

Pps. Katanya Bang Azis lulus remedial! WOOT!

28 November 11
Beautiful imperfections make a relationship perfect.

Yasmin Ahmad

Tahukah Anda bahwa quote ini sebegitu menohoknya bagi gue?

Posted: 1:52 AM

How’s life?

Halo!

Akhirnya Poundra Adhisatya Pratama (yang video campaignnya Mangkok yang bikin di Youtube) terpilih jadi Ketua Senat FK Unpad. Congrats for Poundra!

Terus, tanggal 3 Desember nanti, gue sama teman-teman Mangkok akan goes to Jakarta! Blitz GI! Karena pengumuman juara film bakal di situ.

Oh ya, gue juga ngirim sekitar… 4 poster film iseng buat ikut lomba posternya. Mudah-mudahan menang ya?

Terus, apa ya? Oh ya, Mangkok kebanjiran job. Dalam sehari, Ruby bisa nerima 3x telpon untuk Mangkok. Terus akhirnya kita milih untuk join project sama Kak Samuel Josafat! Thanks God karena Engkau telah mengenalkan gue pada Kak Sam :)

Terus akademik gimana? Respi alhamdulillah lebih simpel dibanding Kardiovaskular. Tapi tugasnya banyak banget dan harus dicicil. Namanya juga udah mahasiswa tingkat 3, harusnya udah ga ngeluh soal ginian ya :s

CIMSA? Keteteran. Parah. Gue sampe stres mikirin kaderisasi ga ketemu konsepnya, terus ga jadi. Totally, nangis untuk hal ini.

SOKA? Ceritanya sih sibuk bikin SOP, tapi anak-anaknya pada ga bisa ngumpul mulu… Termasuk gue. Entah kenapa jadwal yang Enji buat selalu bentrok sama yang lain. -_-

Kalo PSM, kemarin nyanyi untuk Sumpah Dokter FK Unpad 2005! Sumpah ini SumDok terseru, terlebay, tercape, terkocak, termenguras air mata, dan… tergalau.

Galau kenapa? Galau sama…. masa lalu. Sekian.

2 October 11

That I Give Up for My System

Harusnya tanggal 4/5 nanti, hubungan kami berjalan menuju ke bulan keenam. Namun nahasnya, kami tidak bisa melanjutkannya di bulan istimewa kami ini… karena idealisme kami berdua begitu kuat dan terlalu sama.

First time, I knew him from his orientation period. I was his academic training facilitator who tried to be perfect in academy (yang sayangnya kalo realita gue bego banget) to became his tutor group’s role model. Everything was right and fine, until one day I got a new relationship with him… randomly. Gada ujan gada angin. Ya, random.

Pada saat itu, gue merasa gue sedang dalam masa kebesaran gue. Gue sudah menjadi “sesuatu” namun gue sadar fokus perkembangan gue dalam menjalani masa jabatan menjadi “sesuatu” itu mudah goyah karena hal yang tidak penting. So, at the moment, I had think I must built a new supporting system for myself. Yes, he was my brand new system.

Sayangnya gue orangnya cepat adiktif meskipun sangat adaptif. Selama lima bulan lebih, dengan supporting system ini, gue kuat menjalani… bahkan menambah beban gue dengan menjadi lebih dari “sesuatu”. Amanah lain gue ambil karena keegoisan rasa ingin tahu dari diri gue yang besar. Gue mau jadi ini… gue mau jadi itu. Gue mau belajar ini ya belajar ini, ga mau tau. Yang gue alfa adalah gue tidak tau sampai mana batasan mental gue. Gue uji terus mental gue tanpa controlling yang benar. Ternyata gue tidak jatuh… karena kuatnya supporting system gue ini.

He was the best. Dengan wajah dan aksen lucunya kalo berbicara, gue tau dia heran dengan segala keambisiusan gue. Dia heran kenapa gue mau banting tulang sana sini, banting mental. But he always made me focus. Sekalipun gue sedang merasa di titik jatuh gue, dia hanya akan mendengarkan, tanpa menghakimi. Dia tau gue sedang belajar. Dia hanya diam dan mendengarkan, lalu akhirnya mengeluarkan kata-kata yang lucu seakan-akan menyiratkan, “Everything will be fine. Keep on trying!” (tentunya dengan nada dan suara dia yang ganteng, tidak dengan nada Singlish gagap yang selalu dia tirukan ke gue).

Dia selalu mencoba tidak membuat khawatir gue. Pernah suatu saat, gue menunggu dia yang sedang melaksanakan tugas suci dari Mbaknya untuk ke Bandung. Gue menunggu flashdisk gue yang dia pinjam. Selama menunggu, gue menghadiri salah satu forum di kampus. Saat break, gue mencari dia yang katanya sudah sampai kampus lagi. Tapi dia tidak ada. Gue mulai khawatir. Akhirnya gue memutuskan untuk solat dan voila, bertemulah gue dan dia di Mushola kampus. Dia senyam-senyum tolol, cengengesan….. dengan baju kotor dan celana robek. Tolol. Dia ternyata baru mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang ke Jatinangor. Tolol. Tolol. Tolol. Gue mencelos dalam hati. Orang ini terlalu tolol. Masih bisa-bisanya cengengesan… dan seakan-akan tidak mau ada yang mengkhawatirkan dia. Semua ketololan dia adalah sebuah sistem yang entah sengaja atau tidak dia buat… untuk membuat nyaman. Dia pikir dia Jojon Srimulat apa dengan segala ketololan dia?

He was a tough people. Dan tetap tolol. Di saat dia sakit ketika dia mau remedial pun, dia tidak memberitahukan secara eksplisit ke gue. Padahal gue tau, dia jarang sakit dan sekalinya sakit, dia akan menjadi bawel secara sekejap. Selama tidak tidur, dia akan selalu bicara. Ingin ini ingin itu. Kasarnya minta ditemani. Dia tidak meminta tapi gue yang sedang di Bandung kelimpungan begitu tau apa yang terjadi. Tiba-tiba besoknya dia mengabarkan dia sudah sehat dengan mengirim sms bodoh. Padahal gue pada saat itu sedang di Jatinangor untuk suatu rapat sekaligus berniat untuk menjenguk dia dengan membatalkan berbagai acara bersama teman SMA gue. Bodoh. Bego. Tolol.

Tapi dibalik semua ketololan kami, idealisme kami terlalu kuat, bahkan terlalu sama. Pada bulan keempat menuju bulan kelima, gue menyadari bahwa kami tidak akan selalu bersama. Gue harus merubah supporting system gue. Gue mau tidak mau harus mencari, bahkan mempersiapkan sebuah sistem yang baru. Gue harus meninggalkan sedikit demi sedikit supporting system gue ini, gue tidak bisa selalu dalam zona nyaman ini.

Pada saat menginjak bulan kelima, sejujurnya gue mulai khawatir dan mencoba menyusun sebuah sistem yang baru. Namun dibalik padatnya pikiran gue tentang pengakhiran sistem bersama dia ini, gue pun dihajar fisiknya dengan menjadi panitia OPPEK dengan divisi bergantian, mulai dari Logistik, Fasilitator, Komunikasi & Koordinasi (Komkom), hingga yang terakhir kemarin gue jadi Keamanan Lapangan (Kamlap). Sebelum gue pindah divisi ke Kamlap, gue bertugas 3 hari full menjadi Komkom dan berakhir dengan hilangnya suara. My voice was gone and he was worried. Dia menyuruh gue untuk beristirahat dan besoknya kaget ketika gue sudah ada di basecamp panitia jam 5 pagi karena pindah divisi menjadi Kamlap yang fisiknya dan suaranya harus kuat. Menjadi Kamlap di hari terakhir adalah siksa sekaligus nikmat. Harus bikin barikade, harus berlari, harus berteriak, dan harus sabar. Setelah menjadi Kamlap selama 18 jam, besoknya gue sore-throat dan langsung beli obat. Ga lama kemudian demam. Gue pun minum paracetamol. Demamnya turun. Besoknya demam lagi-turun lagi-demam lagi. Gue sampe kebingungan ada apa dengan diri gue?

Seminggu kemudian ada Sandal Jepit, sebuah acara upgrading CIMSA, dimana gue jadi koor acaranya. It was fun dan gue senang riang karena badan gue sudah enaka. Tapi, ketika acara selesai & mulai evaluasi, badan gue kembali keringat dingin dan nyeri tulang. Badan gue menghangat dan gue bersin. Gue kembali demam. Dan he was worried (again). Akhirnya malam itu, dia jemput gue dan menemani gue makan malam. Untuk yang pertama dan terakhir.

Dalam fase demam ini, gue kembali memikirkan supporting system gue ini. Apakah karena sudah mulai bobroknya supporting system ini karena idealisme kami berdua yang ingin segera mengakhiri jadinya gue jatuh sampai sefisik-mental ini? Gue harus bangkit, segera. Karena idealisme kami sudah tidak ada waktu untuk toleransi lagi.

Beberapa lama kemudian, ketika keadaan gue sudah baikan, gue dan dia duduk serius untuk membicarakan idealisme kami. Akhirnya kami menemukan titik temu. Di hari dimana gue dan dia latihan malam PSM bersama itu berakhir, hubungan kami pun berakhir.

Dia mengantarkan gue ke kosan gue untuk terakhir kalinya. We had talk too much at there. Sampai akhirnya tiba waktunya. Kami harus menutup semuanya dan kembali ke awal. Dan i hugged him for the last time.

Besoknya, gue demam lagi. Lebih parahnya ketika gue pulang ke Bandung, gue menggigil lebih parah. Nyeri luar biasa. Suara hilang. Demam tinggi. Nyokap gue sampe panik.

Namun gue sadar, gue harus cepat menyesuaikan diri. Gue harus sembuh baik secara fisik maupun mental dan kembali membangun supporting system yang baru selama gue sendiri. Akan banyak amanah yang terlantar apabila gue tetap dalam fase labil ini. Gue harus move on. Dan banyak mengucap syukur tentunya.

Terutama untuk bentuk supporting system gue yang lama. Gue sangat berterimakasih pada Tuhan bahwa gue diberikan waktu untuk kenal lebih dekat dengan dia. Gue tidak pernah menyesal untuk diberikannya 5 bulan 17 hari (versi itungan gue) bersama dia. It was a great moment, a highly acceleration for myself.

Thank you, Rangga Arya Pamungkas.

Maybe we can suit perfectly again in the future or on other utopia world. Remember, what’s Yasmin Ahmad said, “In the end, the small things that you remember, the little imperfections can make the perfect for you…”

Yes, you’re imperfect. But you’re perfect for me, for that 5 months.

Rangga with his tutor friend, Stefi :__)

Bandung, October 2nd 2011

Sincerely,

Ari Sri Wulandari Surjodiprodjo

ps. Banyak yang nanya, “Apakah gue baik-baik saja sekarang?”. Ya tentu saja! Gue bahkan berteman baik dengan manusia Surabaya satu ini, so jangan khawatir :)
.

1 September 11

Garis Mati

Sekarang gue sedang berkutat menulis sebuah editorial untuk sebuah majalah ditawari oleh Cendy dan deadline-nya 2 hari lagi! Yaaay! Menulis untuk sebuah majalah kembali setelah bertahun-tahun tidak itu rasanya unyu :). Tema kali ini yang gue pilih: Mungkinkah Indonesia Bebas Rokok & Solusinya. Ada dua tema lainnya yang ditawarkan sih, ada Blindness (taken by Kang Ribonk) dan Isu Kesehatan Global (taken by Agustina). Gue sendiri udah mencoba mendalami tema yang gue pilih dengan banyak membaca dan mendiskusikannya dengan kakak gue, Mbak Rary. Semoga kami bertiga (gue, Kang Ribonk, Agus) bisa menyuguhkan sebuah editorial yang menarik :)

Mungkinkah Indonesia Bebas Rokok & Solusinya

Oh ya, rasanya dikejar deadline kembali itu… ASIK YA :)

Posted: 12:40 AM

Halo Kin! Iya, dengan senang hati nanti guehhhhh sampaikan ke Kak Sam *langsung ngetik SMS* *cewe ganjen*

Sebenernya Kak Sam bukan seniorku, dia lulusan UI, beda almamater. Aku lebih seneng nyebut dia “teman” karena rasanya lebih precious dibandingkan “senior”… dan karna selain kami emang satu partner kriminal buat ngegodain banci di bawah jalan layang Pasupati dan ngegodain supir taksi biar dapet diskon juga sih ya :p

Btw Kin. Ini orang impor dari Korea loh HAHA, liat aja potonya. *digebukin Kak Sam*. Gak deng, bercanda.

17 August 11

Seri 17 Agustusan: Aku (tidak) bangga menjadi anak Indonesia!

Sementara si Tita ngepost tentang tulisan Kak Sam yang 16 Agustus, gue lebih prefer ngepost tulisan Kak Sam yang dibuat untuk memperingati Hari Anak Nasional karena menurut gue itu lebih menohok dengan tajamnya, lebih tajam dibanding Silet. (backsound: “Sungguh teganya teganya teganya dirimuuuuu….”)

Yok disambut dengan hikmat yok.  

Aku (tidak) bangga menjadi anak Indonesia!

Ketika orang bertanya “Apakah kamu bangga menjadi anak Indonesia?”, biasanya saya akan tersenyum manis dan menambahkan kalimat pendek, “Bangga, dong” Namun sesungguhnya, orang-orang tidak menyadari bahwa jawaban itu tidak berasal dari hati. Jawaban itu hanya usaha semata untuk menghentikan percakapan dan menghindarkan diri dari perdebatan yang tidak perlu.

Saya punya satu kabar baik dan satu kabar buruk. Karena saya suka akhir yang bahagia, maka saya akan menyampaikan kabar buruk terlebih dahulu.

Saya tidak bangga menjadi anak Indonesia. Saya tidak bangga pada Indonesia. Mengapa kita harus bangga ketika masih ada anak mati karena kurang gizi sementara pejabatnya makan enak setiap hari? Mengapa kita harus bangga ketika jutaan keluarga miskin tak punya tempat tinggal layak sementara wakil rakyat sibuk membangun gedung megah? Mengapa kita harus bangga ketika anak-anak sekolah kita mulai mengenal rokok sementara para pemimpin yang tak peduli menjual bangsa mereka sendiri?

Bagi saya, menanamkan rasa bangga terhadap bangsa ini dalam diri anak-anak kita adalah suatu kebodohan. Mungkin kita berpikir bahwa seperti halnya membiarkan anak kita dimanja dongeng dan imajinasi, baik pula membiarkan mereka hidup dalam ilusi. Jangan bingung bila bangsa ini sulit untuk maju karena terbuai oleh kepuasan semu. Jangan kaget ketika melihat anak-anak kita mulai berpikir bahwa idealisme adalah suatu kekonyolan. Padahal sesungguhnya, ikut berenang dalam arus realitas kebobrokanlah yang membuat kita jadi ikan mati. Ikan mati di bangsa yang mati.

Seharusnya kita tanamkan rasa malu. Malu karena kekayaan alam yang berlimpah peninggalan nenek moyang habis dimanfaatkan bangsa lain. Malu karena bangsa yang pernah berjaya dulu kini hidup sengsara. Malu karena budaya dianggap kuno dan tidak lagi relevan.

Dari sanalah akan muncul rasa geram. Geram melihat pemerintah yang tidak membela kepentingan rakyatnya. Geram melihat harga diri kita diinjak-injak oleh harta. Geram melihat rendahnya moral para penguasa.

Yang kita mau dari anak-anak kita adalah rasa cinta. Cinta sejati yang muncul karena rasa memiliki. Cinta sejati yang mengalir dalam air mata ketika melihat bangsa sendiri dibodohi. Cinta sejati yang mendorong mereka keluar dari zona kenyamanan mereka dan merengkuh sesamanya yang tertindas.

Sekarang, saatnya saya menyampaikan kabar baiknya. Meskipun saya tidak bangga, saya masih cinta pada bangsa dan negara ini. Dan saya yakin bahwa cinta kitalah yang bisa mengubah bangsa ini. Kitalah yang bisa berusaha, agar anak-anak kita bisa berkata pada anak-anaknya; “Berbanggalah jadi anak Indonesia!”


23 Juli 2011 
Memperingati Hari Anak Nasional
“Aku (mau membuat kalian) bangga menjadi anak Indonesia!”


Samuel Josafat Olam

Themed by Hunson. Originally by Josh