RSS | Archive | Random

About



Compilation of many pieces from Ari Sri Wulandari Surjodiprodjo. 20 years old. 3rd grade medical student. An artistic & graphic director. A hysteric choir singer. A temporary photographer. A bad writer. An IFMSA trainer. A part of Supervising Council of CIMSA Unpad. A member of National Human Resources and Development for CIMSA Indonesia.

Exactly, not your usually type.

Following

30 May 12

Location: Paris Van Java

Katanya muka gue itu selalu tablo (tampang bloon), sindiran yang Eep berikan ke gue pada saat May Meeting kemarin. Waktu gue iseng jadi objek fotonya Cendy, ternyata tampang gue emang tablo banget & gue disuruh foto dengan tampang tidak tablo…. tapi ternyata susah, baru foto terakhir yang dinilai sukses :/

Tags: fellas lawak
26 May 12

Apa yang gue temukan di halaman “Kata Mereka” Homepage Official - Taste Buds.

Gini nih sedihnya jadi mahasiswa tingkat akhir yang belagu. Skripsian sama ngurusin organisasi mulu, eh korespondensi sama temen-temen lama kelupa.
SUMPAH GUA KAYAKNYA BARU KELOAR DARI GOAAA BARU BANGET BANGET NIH BARU TAU KALO KINSI SAMA MAS YUNUS KOLABORASI NGELUARIN TASTE BUDS. #sedih
I mean, Kinsi ga bilang-bilang gitu mau ngeluarin buku, terus asal nyosor aja comot komen gue waktu baca draft awal cerpen, “Bertanya”-nya. Kagak pake ijin lagi. Ni anak emang minta dijitak banget *kirim jitakan ke Malaysia*
Gak marah sih… cuma speechless aja. Bisa-bisanya… ga bilang-bilang…………. Tau bilang-bilang kan gue pre-order juga gitu bukunya :/
Ceritanya bakal ada bedah bukunya nih di Jatinangor tanggal 31 Mei. Yah mudah-mudahan saja bisa dateng DAN BELI BUKUNYA. *mendengus hidung*
Anyway, feel happy for Kinsi & Mas Yunus atas peluncuran bukunya. Sukses terus ya! Khusus Kinsi~….. lain kali mbok ya kabari-kabari gue gituh. Gue juga kan kangen :’)
Congratulation!

Apa yang gue temukan di halaman “Kata Mereka” Homepage Official - Taste Buds.

Gini nih sedihnya jadi mahasiswa tingkat akhir yang belagu. Skripsian sama ngurusin organisasi mulu, eh korespondensi sama temen-temen lama kelupa.

SUMPAH GUA KAYAKNYA BARU KELOAR DARI GOAAA BARU BANGET BANGET NIH BARU TAU KALO KINSI SAMA MAS YUNUS KOLABORASI NGELUARIN TASTE BUDS. #sedih

I mean, Kinsi ga bilang-bilang gitu mau ngeluarin buku, terus asal nyosor aja comot komen gue waktu baca draft awal cerpen, “Bertanya”-nya. Kagak pake ijin lagi. Ni anak emang minta dijitak banget *kirim jitakan ke Malaysia*

Gak marah sih… cuma speechless aja. Bisa-bisanya… ga bilang-bilang…………. Tau bilang-bilang kan gue pre-order juga gitu bukunya :/

Ceritanya bakal ada bedah bukunya nih di Jatinangor tanggal 31 Mei. Yah mudah-mudahan saja bisa dateng DAN BELI BUKUNYA. *mendengus hidung*

Anyway, feel happy for Kinsi & Mas Yunus atas peluncuran bukunya. Sukses terus ya! Khusus Kinsi~….. lain kali mbok ya kabari-kabari gue gituh. Gue juga kan kangen :’)

Congratulation!

13 May 12

The Best Gifts

Sri Hudaya Widihasta

It’s probably not the way we want it to be, but always the way it’s supposed to be. Semangat Ri, gue cuma bisa ngasih quotes klise, sorry ya basi, tapi I just want to welcome you, the New Stronger Ari Sri Wulandari!

Nareswara Anugrah Widi

Just hang in there, Ri. You got a lot to do ahead :D

Sasfia Candrianita

Tuhan udah nyiapin skenario lain hehehe, tinggal kitanya aja belajar lebih dewasa.. Dan lebih siap sama yang namanya perubahan. Emang sih seringnya ga disangka-sangka, tapi everything will be good in the end kan? If it`s not good it`s not the end :)

Pebriansyah

Tenang tenang, bisa kok lo, gak usah panik haha :”)


***

Kehilangan dan ketakutan… ternyata Tuhan masih bisa memberikan mereka semua. Mereka semua anugrah terbaik. Ya, yang terbaik, selalu yang terbaik. How I love them :’)

Thankies dear Uda, Nares, Sasfi, dan Pebri :)

Tags: fellas
Posted: 1:05 PM

Bang, Satenya Bang... Seratus Tusuk

  • arisriwulandari: Eh dateng MM?
  • eepansyah: Dateng dooooooooooong, gue nyampe jakarta rabu kaka, mau ketemu emak babe dulu~
  • arisriwulandari: Asik! See you at Jakarta! Oleh-oleh plis.
  • eepansyah: Hahaha okee, mau apa nih oleh-olehnya?
  • arisriwulandari: Apa ajaaaaaaaa. Hati kamuu juga boyeeeeeeeeeeeeee *edisi Suzanna*
  • eepansyah: Heeeeem mulai gombal :3 okedeh ntar terima apa adanya ya *brb masukin pasir pantai*
  • arisriwulandari: Daripada gua dibilangin minta Orok?
Posted: 12:40 AM
I just want to welcome you, the New Stronger Ari Sri Wulandari!

Sri Hudaya Widihasta

All the best. All the best. 12 Mei 2012, gue lahir baru.

10 May 12

Tuhan.

  • (masih ngelanjutin omongan tentang Sekulovisme)
  • Ari: "Ketika manusia diciptakan, diciptakan pula takdir hidupnya serta pasangannya Duy. Cuma itu yang aing pegang."
  • Aduy: "Nah itu, Ri. Ga ada yang tau itu siapa kan? Siapa yang tau aing sebenernya jodoh sama temen SMA aing? Siapa yang tau aing sebenernya udah ketemu jodoh aing? Siapa yang tau aing bakal ketemu jodoh aing di luar negeri?"
  • Ari: "Siapa yang tau jodoh maneh sebenernya aing?"
  • Aduy: "Nah!"
  • Ari: "Yang tau cuma Tuhan, Duy."
Posted: 4:40 PM

Apa Benar Patut Dipisahkan?

  • Aduy: "Aing masih ga mengerti sama konsep jodoh. Ri."
  • Ari: "Tah eta! Aing juga Duy."
  • Aduy: "Maneh tau darimana kalo orang itu jodohnya maneh coba? Apa lebih bersinarkah? Atau apakah?"
  • Aduy: "Aing memisahkan cinta dari kehidupan aing."
  • Aduy: "Kalo Sekularisme mah memisahkan agama dari kehidupan...... Maka kalo aing mah penganut paham SekuLOVE-isme. Memisahkan cinta."
  • Aduy: "Tapi rada maksa oge sih Sekulovisme. HAHA."
  • Ari: *tempeleng Aduy*
7 April 12

Siapa yang Nyuruh sih? -_-

  • Laboratorium A2.1, lagi Embriologi..
  • A: *bisik-bisik* "Ri..."
  • Gue: "Haa?"
  • A: "Tolong dong pijetin dong, flank area gue gak enak." *nunjuk bagian pinggang*
  • Gue: "Eeer, okay." *tampang males*
  • 15 menit kemudian...
  • A: "Ri......"
  • Gue: *masih teguh iman mijetin* "Apa?"
  • A: "Kalo lo terusin ini mijetnya....... gue bisa ketiduran. Udahan gih."
  • Gue: *pasang tampang -_-*
  • Dari sekian orang yang sering gue pijetin, udah ada 3 orang yang menyarankan gue lebih baik belajar shiatsu karena gue bakat mijet. Sial.
Tags: fellas
24 February 12

Sepeda Tua

Kembali menghadirkan saduran tulisan dari Kak Sam. Kali ini mirip yang sedang gue rasakan di TOM 0 yang sedang gue hadiri. Bukan dengan orang yang biasa gue jumpai. Bukan dengan posisi yang biasanya gue tempati. Oke tanpa banyak cingcong, silahkan dibaca coy!

Sepeda Tua

By: Samuel Josafat

Saya mendapatkan sepeda pertama saya ketika saya masih kecil, bahkan sangat kecil, sampai-sampai bersekolah saja belum. Saat itu, sepeda yang saya miliki adalah sepeda kecil beroda tiga yang berwarna ungu, dengan hiasan kepala beruang di depannya.

Tidak banyak yang saya ingat tentang sepeda itu, termasuk di mana keberadaannya terakhir. Namun saya masih ingat bahwa sejak saya memiliki sepeda itu, saya punya jadwal baru. Hampir setiap hari, tepatnya sore hari sekitar pukul lima, setelah saya mandi, saya akan memaksa pembantu saya untuk mengantarkan saya naik sepeda di dekat rumah. Dia berjalan kaki, saya mengayuh.

Sepeda itu sangat menyenangkan, karena semenjak saya memilikinya saya bisa berpetualang lebih jauh. Melihat blok sebelah, mengunjungi taman di ujung kompleks, bertemu teman baru, dan berbagai pengalaman seru lainnya.

Sampai akhirnya, entah kapan dan mengapa, saya tidak lagi menaiki sepeda itu.

Kini, saya sudah berusia lebih dari dua puluh tahun. Sudah lebih dari sepuluh tahun saya tidak melihat sepeda itu. Entah di mana ia berada. Namun, mengingat kembali kenangan saya bersama sepeda itu, saya belajar sesuatu yang baru.

Selama kita hidup, kita terus bertumbuh. Ke atas, ke samping, ke bawah, ke depan, atau ke mana saja. Yang jelas, kita terus berubah. Cita-cita berganti, impian bergeser. Bahkan terkadang, hal-hal yang prinsip pun akhirnya berhasil direnovasi oleh sang waktu.

Sadar atau tidak, banyak sekali nilai-nilai masa kecil kita yang kini telah berubah. Namun, kita tidak pernah terusik bukan? Karena nilai-nilai yang kita anut sekarang adalah bentukan masa, yang kita dapatkan lewat sejuta momen kehidupan kita. Menyesalinya berarti menyesali hidup yang kita punya.

Saat ini, saya tidak punya sepeda. Saya juga tidak lagi tertarik naik sepeda. Saya punya mobil, dan saya bisa berjalan kaki atau naik bus jika mobil saya mogok. Jelas, sepeda bukan lagi kebutuhan saya.

Pengalaman belasan tahun telah mengubah nilai dan cara pandang saya terhadap sepeda. Dan itu sangat normal.

Beberapa waktu lalu, saya diminta oleh sebuah perkumpulan mahasiswa untuk membagikan kisah pengalaman saya di perkumpulan tersebut. Saya sudah bergabung selama hampir 4 tahun, dan banyak hal telah saya lakukan di sana. Namun kini, fungsi saya tidak lebih dari sekedar memberi masukan untuk kegiatan-kegiatan yang berlangsung di perkumpulan tersebut, tanpa ikut ambil bagian secara langsung di dalam kegiatan-kegiatannya.

Saya sempat bertanya kepada diri saya, ke mana motivasi yang dulu saya miliki? Apakah saya terlalu lelah? Atau bosan?

Jawabannya, tidak. Bukan itu yang membuat saya tidak aktif. Ini semua mengenai nilai yang saya pegang.

Dulu, perkumpulan itu menjadi prioritas saya, sepeda saya yang memperkenalkan saya pada dunia baru. Teman-teman baru, tempat baru, suasana baru. Namun kini, hidup saya butuh lebih dari sekedar itu. Saya butuh bergerak lebih cepat, dengan prioritas-prioritas yang juga sangat berbeda.

Lalu, salahkah saya karena sepeda itu kini saya tinggalkan begitu saja? Habis manis sepah dibuang?

Saya rasa tidak.

Empat tahun setelah saya lahir, adik pertama saya lahir. Sewaktu bayi, ia tidur di ranjang bayi yang dulu adalah kepunyaan saya. Ia tumbuh dengan baju-baju bayi peninggalan saya. Ia makan dari peralatan makan bayi saya. Sampai akhirnya, ketika ia lebih besar, ialah yang mewarisi sepeda saya.

Sepeda tua itu mungkin tidak lagi berarti apa-apa bagi saya. Namun sepeda tua saya adalah sepeda baru bagi orang lain, sepeda yang disambut dengan euforia yang sama, dan siap mengantarkan orang itu kepada hal-hal baru.

Di akhir pertemuan saya dengan anggota-anggota perkumpulan itu, saya berpesan pada mereka untuk menggunakan setiap kesempatan sebaik-baiknya.

“Manfaatkanlah sepeda tua ini untuk membawamu ke tempat-tempat yang kau inginkan.”

27 January 12

So Lovely :)

Gue adalah orang yang terhitung sering menulis tentang orang lain. Tapi jarang ditulis sama orang lain. Sekalinya ada yang nulis… kiyut banget haha. Lucu aja, geli-geli gitu. Here’s my best one wrote about me :)

“LOVELY ADVICE”

By: Muhammad Fakhry Hatta

on Sunday, September 4, 2011 at 11:17pm 

Dari banyaknya doa yang diberikan saat hari ulang tahunku yang ke 20…

Tampaknya doa yang diberikan oleh sahabatku Ari Sri Wulandari lah yang bisa kubilang paling berkesan ..

Sebuah doa yang dituliskan pada secarik kertas foto dan diselipkan pada buku GAJAH MADA yang dia berikan sebagai hadiah utama. 

Inilah isi doanya 

Health

  • Drink plenty of water.
  • Eat breakfast like a king , lunch like a prince, and dinner like a beggar.
  • Eat more foods that grow on trees and plants and eat less food that is manufactured in plants.
  • Live with the 3Es -Energy ,Enthusiasm, and Empathy.
  • Play more games.
  • Read more books than you did in 2010.
  • Sit in a silence for at least 10 minutes each day.
  • Sleep for 7 hours.
  • Take a 10-30 minutes walk daily. And while you walk, smile.

Personality

  • Don’t compare your life to others. You have no idea what their journey is all about.
  • Don’t have negative thoughts or things you cannot control. Instead invest your energy in the positive present moment.
  • Don’t over do. Keep your limits.
  • Don’t take yourself so seriously. No one else does.
  • Don’t waste your precious energy on gossip.
  • Dream more while you are awake.
  • Envy is a waste of time. You already have all you need.
  • Forget issues of the past. Don’t remind your partner with her mistake of the past. That will ruin your present happiness.
  • Life is too short to waste time hating anyone. Don’t hate others.
  • Make peace with your past, it won’t spoil the present.
  • No one is in charge of your happiness except you.
  • Realize that life is a school and you are here to learn. Problems are simply part of the curriculum that appear and fade.
  • Away like algebra class but the lessons you learn will last a lifetime.
  • Smile and laugh more.
  • You don’t have to win every argument. Agree to disagree.

Society

  • Call your family often.
  • Each day give something good to others.
  • Forgive everyone for everything.
  • Spend time with people over the age of 70 & under the age of 6.
  • Try to make at least three people smile each day.
  • What other people think of you is none of your business.
  • Your job won`t take care of you when you are sick. Your friends will. Stay in touch.

Life 

  • Do the right thing!
  • Get rid of anything that isn’t useful, beautiful or joyful.
  • However good or bad a situation is, it will change.
  • No matter how you feel, get up, dress up, and show up!
  • The best is yet to come.
  • Your inner most is alwalys happy. So be happy!

HAPPY BIRTHDAY, FAKHRY! HAPPY TWENTY! -ARI SRI WULANDARI-

Entah disalin dari milik orang lain atau dibuat sendiri aku tidak peduli.

Hari itu (2 September 2011) aku baru sadar bahwa memang dia benar-benar sahabatku , selama kami bersahabat hampir 8 tahun dia yang aku rasa selalu ada. Dia bukan tipe orang yang dengan mudahnya bilang “tenang aku bakal ada ko kalo kamu butuh” atau “Kalem we fah urg kan sahabat maneh masa sih ngilang”. Dia pendengar yang baik itu yang paling aku suka dan mungkin seperti itulah sahabat yang baik menurutku sampai sekarang.

Nice one. Thanks Fakh :)

Tags: fellas
7 January 12

Gene Adhiyasa (FTSL ITB 2011) & Ari Sri Wulandari (FK Unpad 2009)

Akhirnya 3 hari setelah gue posting tulisan tentang Gene, gada angin gada geledek, Gene datang ke Jatinangor! Terus dengan isengnya ke kosan gue buat foto-foto doang -_-

18 photoshoot untuk Gene Adhiyasa yang berusia 18 tahun! Cheers!

ps. ternyata cuma muat buat 10 foto, dibikin gif gabisa -_- NGOOOOK!

17 December 11

Untitled

Kembali menghadirkan tulisan salah seorang teman karib gue, Kak/Koko/Cyin Samuel Josafat Olam, S.Ked, dr. yang tentunya kembali disadur dari blog pribadinya. This person is (and always be) my favorite writer all the time :’). Selalu ada aja yang buat gue jatuh cinta dengan sosok humanisnya yang terkadang selalu tertutupi dengan sosok oriental manis manjanya. Oke, Let me share this one. Enjoy.

[untitled]

By: Samuel Josafat

Stase minggu pertama saya di sebuah rumah sakit pendidikan telah membawa banyak pengalaman yang mengubah pandangan saya terhadap kehidupan. Mungkin inilah hal yang paling berharga bagi seorang dokter: kehormatan untuk menimba pelajaran mengenai tubuh manusia dan terlebih lagi, pelajaran mengenai hidup.

Saya rasa hampir setiap koass pernah menyaksikan pasien meninggal di depan matanya. Entah karena sebab apa. Namun, bagi saya, sungguh miris rasanya karena sebagian pasien meninggal bukan karena rendahnya mutu pelayanan dan kemampuan dokter dalam menangani penyakit pasien, namun karena sang pasien tidak mampu ‘membeli’ kehidupannya.

Saya sadar sepenuhnya bahwa dalam hidup pasti ada yang namanya survival of the fittest (setidaknya saya percaya bahwa Darwin benar soal proses seleksi alam ini). Mereka yang mampu bertahan akan terus hidup dan memiliki kesempatan untuk menghasilkan keturunan dengan kualitas wahid, sedangkan mereka yang lemah terpaksa harus mengalah. Namun, meskipun saya bukan seorang sosialis, saya percaya bahwa setiap manusia berhak untuk mendapat pelayanan kesehatan untuk mempertahankan hidupnya. Apa gunanya spesies setingkat manusia membentuk koloni kalau bukan untuk membangun kesejahteraan tiap individu di dalam populasinya? Koloni, atau dalam hal ini negara, bertanggung jawab atas kesehatan dan kehidupan rakyatnya.

Memang, hidup ada di tangan Tuhan. Tapi, apakah menyerah kepada ajal karena tidak mampu membayar juga masuk ke dalam kamus-Nya? Bukankah nabi-nabi datang ke dalam dunia untuk membuat tanda ajaib dan mujizat kesembuhan? Saya percaya Tuhan ingin menjamah hamba-Nya yang sakit dan menderita.

Mungkin itulah faktor utama yang membuat saya sempat merasa tertekan selama stase saya di sebuah rumah sakit pendidikan. Melihat satu-persatu pasien pulang (entah pulang paksa ataupun ‘berpulang’ ke sisi-Nya) tanpa bisa berbuat banyak. Melihat air mata dan teriakan putus asa dari keluarga yang ditinggalkan. Melihat ketidakadilan. Melihat ketidakberdayaan.

Pasien saya, sebut saja Tn. A, mengajarkan saya banyak hal. Tn. A adalah seorang yatim piatu, yang tinggal bersama dengan kakaknya. Usianya baru 25 tahun dan belum menikah, namun sudah mengalami gagal ginjal yang mengharuskannya menjalani dialisis selama beberapa kali seminggu. Pada awalnya, dia sempat menjalani beberapa kali dialisis di sebuah rumah sakit swasta. Namun, karena biaya yang semakin menipis, kakaknya mengajukan permohonan Jamkesmas dan membawa sang adik berobat di rumah sakit tempat saya bertugas.

Di sinilah saya melihat bahwa Jamkesmas, sekalipun merupakan singkatan dari Jaminan Kesehatan Masyarakat, tidak dapat menjadi jaminan mutlak bagi kesehatan masyarakat. Tn. A yang saya temui ternyata membutuhkan hemodialisis cito karena tiba-tiba mengalami sesak malam itu. Sang kakak yang awalnya berpikir untuk menunggu kesempatan hemodialisis gratis lewat Jamkesmas (yang entah kapan baru akan dilaksanakan) terpaksa mengubah keputusannya. Dia rela mengeluarkan biaya hampir satu juta rupiah (entah harus bekerja berapa bulan untuk mendapatkannya) untuk menukarnya dengan nyawa adiknya. Saat itulah saya bertekad, akan berupaya semaksimal mungkin untuk keselamatan Tn. A.

Setelah melakukan informed consent kepada kakak Tn. A, saya mulai mencari informasi mengenai rumah sakit swasta yang bisa melayani hemodialisis cito. Perawat yang berjaga bersama saya terlihat kebingungan dengan keputusan saya namun dengan segera menolong saya menghubungi beberapa rumah sakit yang dikenalnya. Setelah beberapa saat mencari, sebuah rumah sakit swasta ternyata bersedia melakukan hemodialisis cito, namun dibutuhkan waktu sekitar satu jam lagi untuk mendatangkan petugas hemodialisis dan mempersiapkan peralatan. Tidak apa, pikir saya. Menunda satu jam lebih baik daripada satu hari.

Saya menghubungi dokter jaga rumah sakit tersebut untuk berbicara langsung dan mempersiapkan transfer pasien. Dalam waktu satu jam, Tn. A pun berhasil diberangkatkan. Saat itu, saya lega setengah mati. Saya percaya misi saya berhasil. Tn. A kini punya harapan untuk melanjutkan hidupnya.

Lima jam kemudian, sekitar pukul delapan pagi. Tn. A kembali ke rumah sakit tempat saya bertugas. Kondisinya baik. Tidak sesak, dan bisa tidur tenang. Saya sangat bahagia ketika sang kakak kembali dengan wajah sumringah. Namun tak lama, sekitar satu atau dua jam kemudian, perawat berteriak memanggil saya. Tn. A apneu!

Saya tidak percaya apa yang saya dengar. Bukankah dia sudah dihemodialisis? Bukankah saya sudah berusaha dan berhasil? Bukankah sang kakak telah menukar satu juta rupiah dengan hidup adiknya? Bukankah Tuhan sudah mendengar seruan hamba-Nya?

Pagi itu, Tn. A kembali menghadap pencipta-Nya. Sang kakak menangis tak henti-hentinya di sisi sang adik. Saya yang tidak tahan melihat cinta persaudaraan yang begitu besar hanya bisa meminta sang kakak untuk mengikhlaskan kepergian adiknya dan buru-buru meninggalkan ruangan. Sambil mengurus surat kematian, saya terus bertanya di dalam hati, kenapa semua jadi begini.

Sebelum saya meninggalkan bangsal, saya menyempatkan diri menemui kakak Tn. A. Saya mohon maaf karena segala keterbatasan saya. Saya sudah melakukan semua yang saya bisa. Saya benar-benar menyesal, karena di dalam hati saya tahu, pasti ada sesuatu yang luput dari kemampuan saya, yang salah dan terjadi pada Tn. A.

Tanpa saya duga, yang saya terima adalah sebuah senyuman. Senyuman yang meski tenggelam dalam air mata tetap bersinar dengan tulusnya. Senyuman dan ucapan terima kasih, itulah yang saya dapatkan sebagai balasan. Hati yang hancur, itulah yang saya rasakan.

Esoknya, saya merasa benar-benar tidak bersemangat untuk kembali beraktivitas di bangsal. Rasanya dunia saya runtuh.

Tetapi kemudian, saya melihat ke sekeliling dan merenung. Saya bukanlah satu-satunya orang yang pernah merasakan hal seperti ini. Teman-teman saya juga pernah merasakannya. Betapa koass-koass lain, yang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolong pasien mereka, juga pernah kehilangan. Betapa perawat-perawat yang bekerja dengan setia harus terus berhadapan dengan pasien meninggal lagi dan lagi.

Saya mulai menemukan harta karun di balik semua ini. To cure sometimes, to relieve often, to comfort always. Dokter tidak mampu menyembuhkan, tapi kehadirannya haruslah menjadi kenyamanan bagi pasiennya. Semua pengalaman ini adalah pelajaran nyata yang membuat saya mengerti dengan hati, bukan hanya lewat teori.

Kini saya sudah bisa tersenyum lagi, menikmati pekerjaan sebagai koass karena pekerjaan ini adalah pekerjaan yang unik. Saya tidak mau menyesali apa yang telah terjadi. Meski saya tidak mampu menyelamatkan hidup Tn. A, saya lega saya telah menyempatkan diri mendengar berbagai keluhan keluarganya, menjadi penghiburan di kala duka. Kini saya bertekad untuk tidak hanya menjadi profesional yang berdiri terbungkus jas putih, tapi terlebih lagi, menjadi manusia sejati.

Saya akan terus berjuang untuk pasien-pasien saya.

Tulisan ini, benar-benar menggugah hati gue. *brb langsung belajar buat SOOCA CVS & Respi*

Posted: 7:26 PM

Kalo Lo Emang Stalker, Ya Udah Sih Ngaku Aja -_-

  • Ceritanya gue sama Rangga baru balik ke Kampus, abis numpang makan dan rapat di Psikologi, terus papasan sama Iwang yang lagi rapat Natal...
  • Iwang: Ri, tau ga kenapa gue selalu tau gosip-gosip?
  • Ari: Engga. Kenapa emang?
  • Iwang: Karena tanpa gue stalking-in pun, terkadang gosipnya itu muncul di hadapan mata gua sendiri. Seperti ini. *pandangan mata menyipit ke gue dan Rangga*
  • Rangga: HUAHAHAHAHA!
  • Ari: *muka mesem*
Posted: 6:32 PM

BAH!

  • 17 Desember 2011 pukul 18.10, via SMS
  • Ari: Graa! Kahim!
  • Fakhry: Hehe :)
  • Ari: Nyengir doang! Teman macam apalah kau ini tak beritai aku? *logat Batak*
  • Fakhry: Arii, aku jadi kahim :) *tuh udah dikasih tau hehe
  • Ari: (waktu baca SMS, raut muka langsung berubah) -_- NGOK.
Tags: fellas
3 September 11

Sayembara via Twitter

  • Sabtu, 3 September 2011, via Twitter
  • Ari: Gimana caranya mengkonversi tulisan 782 kata menjadi 150 kata?
  • Ilman: Delete, tulis ulang
  • Rivan: Diringkas
  • Triyoga: Delete aja Mbak!
  • Dwiki: caranya buka dokumen di mac, trs save. Buka lg di microsoft word. Dijamin jmlh katanya terpangkas #spasinyailang Lol
  • Ilma: Diapus Ri
  • Tria: hilangkan spasinya riii,udah 390 kata tuh hahaha tinggal singkat2 yg lainnya :p
  • OKEH TERIMAKASIH YAH TEMAN-TEMAN, SARANNYA SEMUA JUGA GUE TAU -_-
Themed by Hunson. Originally by Josh