Een Lange Reis
A rhotacism, who's still catching a suffix granted white magic caster, dr. (med), often called as Ari Sri Wulandari Surjodiprodjo. Currently living in Bandung, Indonesia.
Your blurred line and imaginary friend from this second.

Deserve Better

image

Sebuah notifikasi masuk ke telepon genggam.

arioshafa: Bro

Seorang teman di masa lampau. Yang tak pernah berkomunikasi selama 2 tahun ini. Kembali menyapa.

***

Namanya Ario. Ario Achwanu Shafa. Koasisten di sebuah Rumah Sakit di Yogyakarta. Anak gunung hidup di pantai. Senang bernyanyi sambil main gitar sampai jadi artis Youtube. Pendiam namun selalu mengobservasi.

Setelah hilang kontak hampir 2 tahun, tiba-tiba dengan ajaibnya Ario menyapa saya di LINE. Been ages.

Apa sih yang terjadi selama 2 tahun ini di antara kami berdua? Banyak sekali. Sambil sibuk updating hidup masing-masing, di tengah percakapan saya iseng bertanya, "Kerasukan apa Yo tiba-tiba nge-LINE aku?". Dengan singkat dia menjawab, "Kangen".

***

Ario bercerita dengan gaya khas Ario yang selalu saya kenal, singkat dan pemilihan katanya sangat lugas. Selayaknya manusia lainnya, Ario pun punya masalah. Entah mengapa masalah itu yang menggerakkan Ario untuk menekan fitur Add Friend di LINE dan search by ID, lalu mengetik: arisriwulandari.

Ya, Ario mencari saya. Hanya untuk cerita singkat. Yang dia sendiri ga tau alasan persisnya untuk menghubungi saya.

***

Akhir kata.

arioshafa: Makasih ya, Ri

arioshafa: Mungkin ini yang kukangenin dari kamu Ri, selalu mau dengerin.

Entahlah. Padahal selama ini orang saya kenal yang paling tulus untuk mendengarkan semua keluhan orang adalah Ario itu sendiri, meskipun kadang dia suka respon (baik sengaja maupun tidak sengaja) dengan segala ketidaknyambungannya dia. Ya, saya belajar dari dia, untuk mendengarkan sesuatu dengan tulus, agar bisa membalas segala yang dia lakukan di suatu hari.

Yes, he deserves better.

Sincerely,

Ario’s friend, Ari Sri Wulandari S.

a-raffia-la-qua-at-wiz:

pravitasaryeah:

Sesekali kita perlu berjalan ke tempat yang lebih tinggi. Agar kita terheran-heran mengapa kota bergedung tinggi suaranya sunyi; mengapa waktu rasanya berjalan lambat sekali.

Agar kita tersadarkan bahwa dari jauh bisa jadi kita hanya setitik cahaya yang bahkan tidak bisa dibedakan dari yang lain.

Agar kita mengerti bahwa sebuah pemikiran “diri saya berbeda dengan orang lain” itu tidak valid, justru pemikiran itu lah yang membuat kita semua sama. Sama-sama kecil di hadapan-Nya.

a-raffia-la-qua-at-wiz:

pravitasaryeah:

Sesekali kita perlu berjalan ke tempat yang lebih tinggi. Agar kita terheran-heran mengapa kota bergedung tinggi suaranya sunyi; mengapa waktu rasanya berjalan lambat sekali.

Agar kita tersadarkan bahwa dari jauh bisa jadi kita hanya setitik cahaya yang bahkan tidak bisa dibedakan dari yang lain.

Agar kita mengerti bahwa sebuah pemikiran “diri saya berbeda dengan orang lain” itu tidak valid, justru pemikiran itu lah yang membuat kita semua sama. Sama-sama kecil di hadapan-Nya.

Jadi Harus Ke Indojuli?

Lagi nunggu lift buat turun ke lobby
Cavia: "Kak, aku harus beli makanan dulu nih kayaknya..."
Ari: "Oh ya, di sebelah gedung ada Indomaret kok, kesana aja Cav."
Faishal: "Lah ga buka kali, Teh."
Ari: "Oh ya?"
Faishal: "Lah orang sekarang bulan Juli, bukan bulan Maret."
Cavia + Ari: "....." (mencoba mencerna)
Cavia: "Oh, sekarang aku ngerti deh kenapa Kak Ari suka kesel sama Faishal." (nada maklum)

SMS Ayah Hari Ini

Ayah: Wi, gimana kabarnya? (maksudnya nanya kabar abis ujian)

Gue: Laper Yah. Pengen Mekdi.

Ayah: Kamu mah memang Maha Tidak Nyambung dari dulu.

BDO-MLG

image

Kisah sebuah paket yang dikirimkan dari Barat ke Timur.

Risnu Ardian: (sent you a picture)

Risnu Ardian:

image

Risnu Ardian: Makasih banyak buat kiriman daun sama foto astronotnya.

Risnu Ardian: Ane emang cinta lingkungan dan dulu emang pengen jadi astronot, hahaha.

***

Sepertinya ada yang salah ngomentarin. *sigh*

"Apa yang paling menakutkan dari semuanya? Sejujurnya bukan waktu, namun apa yang akan terbunuh karena waktu; kecuali kenangan, semoga.”
Masih ingat tolakan ajakan bermain di Bandung karena harus menabung habis kemalingan?
Masih ingat waktu pertama kali interview pakai Skype Arky?
Masih ingat waktu bolos sesi May Meeting karena mengobrol dari luar dan dalam hati?
Masih ingat senyum dan pujian atas presentasi yang kehabisan waktu?
Masih ingat tersasar waktu bertemu di Bandung?
Masih ingat makan rainbow cake sambil handover?
Masih ingat berpetualang naik Si Donal demi rapat di KFC Gaplek?
Masih ingat ketiduran di Kemang ketika menonton sebuah pertandingan sepak bola?
Masih ingat telepon untuk sekedar mengingatkan agar bangun dari tidur ketika sesi baru di NLS akan dimulai?
Masih ingat panggilan jadi trainer dadakan untuk NLS?
Masih ingat makan siang sambil ditemani musik-musik yang menyenangkan?
Masih ingat hujan-hujanan demi sebuah kue ulang tahun?
Masih ingat cerita dini hari dari hati ke hati di McDonald Pondok Gede hingga menjelang subuh?
"Dasar kamu selalu ngerepotin aku, tapi aku seneng direpotin kamu, karena kamu adik yang menyenangkan."
Aku ingat semua kata-kata itu. Singkat, tapi mengharukan.
***
"Hei, Selamat Ulang Tahun" mungkin terlalu terlambat untuk saat ini, jadi aku hanya ingin ucapkan, selamat menjelang akhir dari hari ulang tahunmu. Aku hanya mau memulai permainan kartu-kartu kenangan kita sebentar, baru lalu kita saling bercerita tentang semua ingatan dan kemudian kembali mengejar mimpi masing-masing.
Selamat ulang tahun, dr. Muhammad Fahriza.
Dari penggemarmu nomor satu, adikmu.

Ari Sri Wulandari

"Apa yang paling menakutkan dari semuanya? Sejujurnya bukan waktu, namun apa yang akan terbunuh karena waktu; kecuali kenangan, semoga.”

Masih ingat tolakan ajakan bermain di Bandung karena harus menabung habis kemalingan?

Masih ingat waktu pertama kali interview pakai Skype Arky?

Masih ingat waktu bolos sesi May Meeting karena mengobrol dari luar dan dalam hati?

Masih ingat senyum dan pujian atas presentasi yang kehabisan waktu?

Masih ingat tersasar waktu bertemu di Bandung?

Masih ingat makan rainbow cake sambil handover?

Masih ingat berpetualang naik Si Donal demi rapat di KFC Gaplek?

Masih ingat ketiduran di Kemang ketika menonton sebuah pertandingan sepak bola?

Masih ingat telepon untuk sekedar mengingatkan agar bangun dari tidur ketika sesi baru di NLS akan dimulai?

Masih ingat panggilan jadi trainer dadakan untuk NLS?

Masih ingat makan siang sambil ditemani musik-musik yang menyenangkan?

Masih ingat hujan-hujanan demi sebuah kue ulang tahun?

Masih ingat cerita dini hari dari hati ke hati di McDonald Pondok Gede hingga menjelang subuh?

"Dasar kamu selalu ngerepotin aku, tapi aku seneng direpotin kamu, karena kamu adik yang menyenangkan."

Aku ingat semua kata-kata itu. Singkat, tapi mengharukan.

***

"Hei, Selamat Ulang Tahun" mungkin terlalu terlambat untuk saat ini, jadi aku hanya ingin ucapkan, selamat menjelang akhir dari hari ulang tahunmu. Aku hanya mau memulai permainan kartu-kartu kenangan kita sebentar, baru lalu kita saling bercerita tentang semua ingatan dan kemudian kembali mengejar mimpi masing-masing.

Selamat ulang tahun, dr. Muhammad Fahriza.

Dari penggemarmu nomor satu, adikmu.

Ari Sri Wulandari

Bau rumah sakit ini menusuk hidungku dengan segera. Kamu yang sedang ditunggu-tunggu, datanglah. Kamu yang sedang berjuang menentukan hidup dan mati, semangatlah.

Karena aku selalu menunggumu. Di sini. Meski kamu tak pernah tahu.

Jujur Nih, Emang Lagi Nyari Wedding Organizer Sebenernya...

Lagi buka bersama KKNM Bojonggenteng 2012 (The Bontengs/ BGT48)
Dewa: "Ri, kapan nikah?" (sombong mentang-mentang udah punya pacar)
Ari: "Doain aja ya Wa..." (senyum)
Uju: "Ah, si Ari mah doain aja mulu..."
Ari: "Sejujurnya ya Wa, urang teh lagi nyari Wedding Organizer... Cuma dari kemaren ga ada yang cocok..."
Uju: "WIH SERIUS????"
Dewa: "Ama aing aja siniiiih!"
Ari: "Serius lah, masa urang main-main sama nikahan."
Dewa: "Sama siapa, Ri? Orang mana? Kalo sama anak Unpad lagi sini diospek dulu lah sama The Bontengs!"
Ari: "Yee ospek-ospek, ini aja lagi pusing ga ada yang cocok sama paket-paket WOnya."
Uju: "Emang maneh cari yang kaya gimana, Ri?"
Ari: "Nyari paket yang sekalian nyediain mempelai pria......." (nyengir)
Dewa & Uju: "........................."
Uju: "Kok aing merasa dipermainkan yah..."
Dewa: "Maneh teh segitunya ya hopeless, Ri? Sini dicariin anak Geologi lah. Sedih aing dengernya."

"Mereka berjalan pulang menuju area parkir dengan saling terdiam. Terkadang dengan saling curi pandang.
“Mas, nanya dong.” Ayu memecah keheningan.
“Apa, tuh?”
“Mas pernah bilang, bagi Mas, saya itu perhiasan dunia akhirat.”
“Iya.”
“Kenapa bisa bilang begitu?”
“Kamu pintar. That goes without question. Kamu cantik. Itu jelas.”
“Itu semua dunia,” potong Ayu.
“Dan karena pada waktunya, saya selalu lihat sepatu kamu di musala perempuan.”
“…”"

Percakapan Cakra dan Ayu di “Sabtu Bersama Bapak” - Adhitya Mulya

Salah satu percakapan paling favorit dari keseluruhan buku ini. Double G. Genuine and genius.

I'm Letting My Wife Go

I’m Letting My Wife Go

I’m sure it may come as a shock to some people, but I let my wife go. It was one of the hardest things I’ve had to do, but it was the right thing for the both of us.

Kim and Seth Wedding

No, we’re not getting a divorce and no, we’re not separating. Truth be told, the practice of “letting go” has actually brought us closer together. But in order to understand what I mean by “letting go,” you must first understand that Kim and I are two very different people.

In fact, the differences between us were Kim’s primary concern with us getting married. “Seth, a fish may love a bird,” she said. “But where would they live?”*

I smiled at the comparison because it’s fairly accurate.

Kim and I are incredibly different people. She’s the oldest in her family; I’m the youngest in mine. She’s very responsible; I’m…very much not. She loves the city; I prefer the country. She loves healthy food; I love junk food. She enjoys school; I despise school. She wants to watch British dramas; I’d rather watch comedies. She loves to sing and dance; I’d rather not. She prefers flying; I prefer driving. She loves to be with people, and I’d prefer to be alone. Kim is a driven, career-minded, goal-oriented woman, while I, on the other hand, am a laid-back fellow who prefers gardening and writing over anything else.

To put it simply, Kim is an extrovert while I am an introvert. Frankly, it sometimes amazes me that Kim and I even metlet alone got married!

But after knowing Kim for ten years, I knew that I simply couldn’t live without her.

Despite their many differences, the fish loved the bird and the bird loved the fish.

So we put our faith in that love and did the only thing a fish and a bird could do: we got married and built a bird bath.

The bird bath is a symbol for our middle ground—the place where we come together—but it’s also the place from which we feel comfortable to let each other go. To “let go” of someone is to love them enough to let them fly or swim away (or to be themselves) and yet trust that they will always come back.

For if we truly love each other, we have to be willing to “let each other go” to become the best versions of ourselves. Kim encourages me to keep swimming (develop my talents), and I encourage her to fly higher (chase her dreams).

Abusive, one-sided relationships are heartbreaking to me. How can we claim to love someone and then try to limit that person’s identity? Marriage is a union, to be sure, but it’s a union that should liberate, not incarcerate. Real love shouldn’t limit a person’s potential, it should expand it.

Buddies

Real love tells me to let Kim fly and trust that she’ll always come back. I have to let her go so she can chase her dreams, pursue her education, and develop her talents. Additionally, I have to let go of my fears that she might fly away and never come back. If the fish were to clip the bird’s wings, he would risk trimming her dreams and smothering her altogether.

That being said, I wish I could say that I’m perfect at letting my wife fly. But I’m not. In the end, we’re still two very different people. I have some deeply rooted insecurities, and we’ve had to learn to navigate each other’s personalities.

But while I certainly can’t tell you that I’m perfect, I can tell you that every time I’ve encouraged Kim to fly she loves me all the more for supporting her and having the faith to let her go.

So, if you truly love someone, have the faith to “let them go.” Encourage them to be the fullest measure of themselves, and you will be overwhelmed by the love that your spouse returns to you.

** I am well aware that the fish and the bird comment comes from “Fiddler on the Roof”/”Ever After”. Kim probably heard that line from one of those movies. I’m simply reporting what she said to me in that moment, not trying to credit her with being the original source for saying it.

Oh, this is nice…… and accurate…. and lovely life lesson.

Kemasan Memori

Sebuah ikatan pasti mempunyai suatu sejarah masing-masing bagaimana kedua utas atau lebih benang merah bisa saling terkait. Kadang apa yang terlalu terikat dengan kita berhasil membuat kita dilema akan masa lalu. Terlena dan menghanyutkan.

Tak perlu malu. Semua orang punya masa lalu. Masa depan tak akan pernah ada tanpa masa lalu. Tinggal bagaimana cara kita mengemasnya.

"Beberapa orang mengemasi masa lalu mereka dibuang. Beberapa lagi, untuk dibuka pada hari kemudian, yang entah kapan."  - Tia Setiawati

Well, I choose the second option.

Saya jg shock teh kemaren ke pvj sendirian setelah sekian lama, pake motor, parkirnya sampe 9500… Ya lama sih, tapi……..
See? Ada yang ga beres sama sistem retribusi layanan parkir di Kota Bandung. Menurut Perda, parkir motor itu hanya 1.000 untuk 2 jam pertama, baik di luar atau di dalam gedung parkir. Sisa duitnya… buat apa hayoh? Halal apa engga hayoh? Ini semacam pertanyaan retoris, "Babi, babi apa yang paling haram?" gitu deh ya.
ps. Lagi pulang ke Bandung, Ce?
pps. Temen gue pernah kok parkir mobil di PvJ abis 67 ribu rupiah… gara-gara dia lupa kalo dia ke PvJ bawa mobil.
ppps. Buat yang ga tau pertanyaan teka-teki di atas, jawabannya "Babi yang hamil anak Babi di luar nikah". TARAKDES. Anti-klimaks sekali.

"Untuk memenangkan ‘satu’, kamu perlu mengalahkan ‘banyak’. Egomu salah satunya."

Sederhana

Ari: "Lucu aja ya, interaksi manusia bisa makin dekat dengan lebih memaknai hal-hal yang sederhana."
Faishal: "Iya, itulah fitrah manusia sesungguhnya. Kesederhanaan."
Akhirnya saya kembali menggunakan Twitter saya.
Yah, akhirnya setelah genap 90 hari tidak dipakai. Coba ditanya dong, "Emang dipakai buat apa, Ri?".
Buat ngeluh. (Tuh kan)
Tapi kali ini saya punya alibi untuk mengeluh dan saya rasa kali ini keluhan saya memang harus disiarkan lewat Twitter.
—
Jadi gini, saya pagi-pagi ke RSM Cicendo Bandung. Saya parkir di tempat biasa saya parkir, di dekat Gedung Pakuan yang digunakan sebagai kediaman resmi Gubernur Jawa Barat. Dua hal yang mesti diingat: (1) tempat parkir itu resmi karena ada marka parkirnya, (2) saya jarang parkir di dalam RSM karena penuh dan saya rasa lebih fungsional kalo dipakai oleh pasien dibanding sama saya. Saya udah akrab sama tukang parkir sini karena memang ramah dan sering bantu saya jaman saya belum lancar parkir paralel. Oke, pada saat saya mau parkir, saya celingak-celinguk dulu "Mana nih si Abang Parkir biasanya…", munculah seorang Juru Parkir yang lain, yang saya baru liat seumur-umur bolak-balik ke RSM Cicendo. Parkir saya pun diaba-abakan seperti pada umumnya dan berjalan lancar.
Satu hal yang aneh ketika saya siap-siap masukin barang-barang ke tas dan mau turun mobil, saya melihat Jurkir itu mencatat nopol mobil saya di secarik kertas dan diam di samping mobil, nungguin saya sampe keluar mobil. Dalam hati jujur aja sih udah ga enak, tapi Islam selalu mengajarkan husnuudzan bukan? Saya akhirnya husnuudzan aja, meski tersirat ragu.
Turun dari mobil, saya ditodong gitu aja sama kertas retribusi parkir. Oke lah, ga masalah kalau harus bayar sekarang. Saya udah rogoh saku ambil 2.000 rupiah BERDASARKAN Perda no. 16 tahun 2012 tentang retribusi pelayanan parkir (iya perda yang nongol di karcis itu). Jurkirnya santai banget terus bilang….. “Limaribu, Neng”.
Speechless.
Masalah banget ya Ri kalo bayar goceng?
Engga, ga masalah. Jurkir langganan saya di belakang Gedung Pendidikan FK Unpad/ RSHS aja saya sering kok kasih 5.000 karena beliau memang helpful, informatif, dan sering mengingatkan seperti, "Dok, jangan taro laptop di mobil ya Dok", "Dok, awas itu kaca belakang mobilnya kurang rapet", "Dok, hati-hati ya di Jalan Kesehatan, suka ada jambret", dsb. (bahkan saking respeknya saya panggil beliau), begitupun dengan abang Jurkir biasa yang jadi langganan saya di Cicendo. Tapi ini…… Ah sudahlah. Kejujuran masih mahal harganya di Indonesia memang.
Pada akhirnya, saya relakan aja goceng melayang dari saku saya. Saya gatau sisa 3.000 rupiah yang diterima Jurkir tersebut mau diapakan, halal apa engga, yang pasti sudah saya laporkan ke Wali Kota dan Dinas Perhubungan Kota Bandung via Twitter. Alhamdulillah, tweet saya sudah difavoritkan oleh kedua akun tersebut, tanda sudah dibaca dan ditandai oleh Pak Ridwan Kamil dan Dinas Perhubungan Kota Bandung.
Yah, sekali-kali mengeluh di media sosial ada manfaatnya ternyata. Asal jangan keseringan aja kali ya.

Akhirnya saya kembali menggunakan Twitter saya.

Yah, akhirnya setelah genap 90 hari tidak dipakai. Coba ditanya dong, "Emang dipakai buat apa, Ri?".

Buat ngeluh. (Tuh kan)

Tapi kali ini saya punya alibi untuk mengeluh dan saya rasa kali ini keluhan saya memang harus disiarkan lewat Twitter.

Jadi gini, saya pagi-pagi ke RSM Cicendo Bandung. Saya parkir di tempat biasa saya parkir, di dekat Gedung Pakuan yang digunakan sebagai kediaman resmi Gubernur Jawa Barat. Dua hal yang mesti diingat: (1) tempat parkir itu resmi karena ada marka parkirnya, (2) saya jarang parkir di dalam RSM karena penuh dan saya rasa lebih fungsional kalo dipakai oleh pasien dibanding sama saya. Saya udah akrab sama tukang parkir sini karena memang ramah dan sering bantu saya jaman saya belum lancar parkir paralel. Oke, pada saat saya mau parkir, saya celingak-celinguk dulu "Mana nih si Abang Parkir biasanya…", munculah seorang Juru Parkir yang lain, yang saya baru liat seumur-umur bolak-balik ke RSM Cicendo. Parkir saya pun diaba-abakan seperti pada umumnya dan berjalan lancar.

Satu hal yang aneh ketika saya siap-siap masukin barang-barang ke tas dan mau turun mobil, saya melihat Jurkir itu mencatat nopol mobil saya di secarik kertas dan diam di samping mobil, nungguin saya sampe keluar mobil. Dalam hati jujur aja sih udah ga enak, tapi Islam selalu mengajarkan husnuudzan bukan? Saya akhirnya husnuudzan aja, meski tersirat ragu.

Turun dari mobil, saya ditodong gitu aja sama kertas retribusi parkir. Oke lah, ga masalah kalau harus bayar sekarang. Saya udah rogoh saku ambil 2.000 rupiah BERDASARKAN Perda no. 16 tahun 2012 tentang retribusi pelayanan parkir (iya perda yang nongol di karcis itu). Jurkirnya santai banget terus bilang….. “Limaribu, Neng”.

Speechless.

Masalah banget ya Ri kalo bayar goceng?

Engga, ga masalah. Jurkir langganan saya di belakang Gedung Pendidikan FK Unpad/ RSHS aja saya sering kok kasih 5.000 karena beliau memang helpful, informatif, dan sering mengingatkan seperti, "Dok, jangan taro laptop di mobil ya Dok", "Dok, awas itu kaca belakang mobilnya kurang rapet", "Dok, hati-hati ya di Jalan Kesehatan, suka ada jambret", dsb. (bahkan saking respeknya saya panggil beliau), begitupun dengan abang Jurkir biasa yang jadi langganan saya di Cicendo. Tapi ini…… Ah sudahlah. Kejujuran masih mahal harganya di Indonesia memang.

Pada akhirnya, saya relakan aja goceng melayang dari saku saya. Saya gatau sisa 3.000 rupiah yang diterima Jurkir tersebut mau diapakan, halal apa engga, yang pasti sudah saya laporkan ke Wali Kota dan Dinas Perhubungan Kota Bandung via Twitter. Alhamdulillah, tweet saya sudah difavoritkan oleh kedua akun tersebut, tanda sudah dibaca dan ditandai oleh Pak Ridwan Kamil dan Dinas Perhubungan Kota Bandung.

Yah, sekali-kali mengeluh di media sosial ada manfaatnya ternyata. Asal jangan keseringan aja kali ya.