Een Lange Reis
A rhotacism, who's still catching a suffix granted white magic caster, dr. (med), often called as Ari Sri Wulandari Surjodiprodjo. Currently living in Bandung, Indonesia.
Your blurred line and imaginary friend from this second.

SMS Ayah Hari Ini

Ayah: Wi, gimana kabarnya? (maksudnya nanya kabar abis ujian)

Gue: Laper Yah. Pengen Mekdi.

Ayah: Kamu mah memang Maha Tidak Nyambung dari dulu.

BDO-MLG

image

Kisah sebuah paket yang dikirimkan dari Barat ke Timur.

Risnu Ardian: (sent you a picture)

Risnu Ardian:

image

Risnu Ardian: Makasih banyak buat kiriman daun sama foto astronotnya.

Risnu Ardian: Ane emang cinta lingkungan dan dulu emang pengen jadi astronot, hahaha.

***

Sepertinya ada yang salah ngomentarin. *sigh*

"Apa yang paling menakutkan dari semuanya? Sejujurnya bukan waktu, namun apa yang akan terbunuh karena waktu; kecuali kenangan, semoga.”
Masih ingat tolakan ajakan bermain di Bandung karena harus menabung habis kemalingan?
Masih ingat waktu pertama kali interview pakai Skype Arky?
Masih ingat waktu bolos sesi May Meeting karena mengobrol dari luar dan dalam hati?
Masih ingat senyum dan pujian atas presentasi yang kehabisan waktu?
Masih ingat tersasar waktu bertemu di Bandung?
Masih ingat makan rainbow cake sambil handover?
Masih ingat berpetualang naik Si Donal demi rapat di KFC Gaplek?
Masih ingat ketiduran di Kemang ketika menonton sebuah pertandingan sepak bola?
Masih ingat telepon untuk sekedar mengingatkan agar bangun dari tidur ketika sesi baru di NLS akan dimulai?
Masih ingat panggilan jadi trainer dadakan untuk NLS?
Masih ingat makan siang sambil ditemani musik-musik yang menyenangkan?
Masih ingat hujan-hujanan demi sebuah kue ulang tahun?
Masih ingat cerita dini hari dari hati ke hati di McDonald Pondok Gede hingga menjelang subuh?
"Dasar kamu selalu ngerepotin aku, tapi aku seneng direpotin kamu, karena kamu adik yang menyenangkan."
Aku ingat semua kata-kata itu. Singkat, tapi mengharukan.
***
"Hei, Selamat Ulang Tahun" mungkin terlalu terlambat untuk saat ini, jadi aku hanya ingin ucapkan, selamat menjelang akhir dari hari ulang tahunmu. Aku hanya mau memulai permainan kartu-kartu kenangan kita sebentar, baru lalu kita saling bercerita tentang semua ingatan dan kemudian kembali mengejar mimpi masing-masing.
Selamat ulang tahun, dr. Muhammad Fahriza.
Dari penggemarmu nomor satu, adikmu.

Ari Sri Wulandari

"Apa yang paling menakutkan dari semuanya? Sejujurnya bukan waktu, namun apa yang akan terbunuh karena waktu; kecuali kenangan, semoga.”

Masih ingat tolakan ajakan bermain di Bandung karena harus menabung habis kemalingan?

Masih ingat waktu pertama kali interview pakai Skype Arky?

Masih ingat waktu bolos sesi May Meeting karena mengobrol dari luar dan dalam hati?

Masih ingat senyum dan pujian atas presentasi yang kehabisan waktu?

Masih ingat tersasar waktu bertemu di Bandung?

Masih ingat makan rainbow cake sambil handover?

Masih ingat berpetualang naik Si Donal demi rapat di KFC Gaplek?

Masih ingat ketiduran di Kemang ketika menonton sebuah pertandingan sepak bola?

Masih ingat telepon untuk sekedar mengingatkan agar bangun dari tidur ketika sesi baru di NLS akan dimulai?

Masih ingat panggilan jadi trainer dadakan untuk NLS?

Masih ingat makan siang sambil ditemani musik-musik yang menyenangkan?

Masih ingat hujan-hujanan demi sebuah kue ulang tahun?

Masih ingat cerita dini hari dari hati ke hati di McDonald Pondok Gede hingga menjelang subuh?

"Dasar kamu selalu ngerepotin aku, tapi aku seneng direpotin kamu, karena kamu adik yang menyenangkan."

Aku ingat semua kata-kata itu. Singkat, tapi mengharukan.

***

"Hei, Selamat Ulang Tahun" mungkin terlalu terlambat untuk saat ini, jadi aku hanya ingin ucapkan, selamat menjelang akhir dari hari ulang tahunmu. Aku hanya mau memulai permainan kartu-kartu kenangan kita sebentar, baru lalu kita saling bercerita tentang semua ingatan dan kemudian kembali mengejar mimpi masing-masing.

Selamat ulang tahun, dr. Muhammad Fahriza.

Dari penggemarmu nomor satu, adikmu.

Ari Sri Wulandari

Bau rumah sakit ini menusuk hidungku dengan segera. Kamu yang sedang ditunggu-tunggu, datanglah. Kamu yang sedang berjuang menentukan hidup dan mati, semangatlah.

Karena aku selalu menunggumu. Di sini. Meski kamu tak pernah tahu.

Jujur Nih, Emang Lagi Nyari Wedding Organizer Sebenernya...

Lagi buka bersama KKNM Bojonggenteng 2012 (The Bontengs/ BGT48)
Dewa: "Ri, kapan nikah?" (sombong mentang-mentang udah punya pacar)
Ari: "Doain aja ya Wa..." (senyum)
Uju: "Ah, si Ari mah doain aja mulu..."
Ari: "Sejujurnya ya Wa, urang teh lagi nyari Wedding Organizer... Cuma dari kemaren ga ada yang cocok..."
Uju: "WIH SERIUS????"
Dewa: "Ama aing aja siniiiih!"
Ari: "Serius lah, masa urang main-main sama nikahan."
Dewa: "Sama siapa, Ri? Orang mana? Kalo sama anak Unpad lagi sini diospek dulu lah sama The Bontengs!"
Ari: "Yee ospek-ospek, ini aja lagi pusing ga ada yang cocok sama paket-paket WOnya."
Uju: "Emang maneh cari yang kaya gimana, Ri?"
Ari: "Nyari paket yang sekalian nyediain mempelai pria......." (nyengir)
Dewa & Uju: "........................."
Uju: "Kok aing merasa dipermainkan yah..."
Dewa: "Maneh teh segitunya ya hopeless, Ri? Sini dicariin anak Geologi lah. Sedih aing dengernya."

"Mereka berjalan pulang menuju area parkir dengan saling terdiam. Terkadang dengan saling curi pandang.
“Mas, nanya dong.” Ayu memecah keheningan.
“Apa, tuh?”
“Mas pernah bilang, bagi Mas, saya itu perhiasan dunia akhirat.”
“Iya.”
“Kenapa bisa bilang begitu?”
“Kamu pintar. That goes without question. Kamu cantik. Itu jelas.”
“Itu semua dunia,” potong Ayu.
“Dan karena pada waktunya, saya selalu lihat sepatu kamu di musala perempuan.”
“…”"

Percakapan Cakra dan Ayu di “Sabtu Bersama Bapak” - Adhitya Mulya

Salah satu percakapan paling favorit dari keseluruhan buku ini. Double G. Genuine and genius.

I'm Letting My Wife Go

I’m Letting My Wife Go

I’m sure it may come as a shock to some people, but I let my wife go. It was one of the hardest things I’ve had to do, but it was the right thing for the both of us.

Kim and Seth Wedding

No, we’re not getting a divorce and no, we’re not separating. Truth be told, the practice of “letting go” has actually brought us closer together. But in order to understand what I mean by “letting go,” you must first understand that Kim and I are two very different people.

In fact, the differences between us were Kim’s primary concern with us getting married. “Seth, a fish may love a bird,” she said. “But where would they live?”*

I smiled at the comparison because it’s fairly accurate.

Kim and I are incredibly different people. She’s the oldest in her family; I’m the youngest in mine. She’s very responsible; I’m…very much not. She loves the city; I prefer the country. She loves healthy food; I love junk food. She enjoys school; I despise school. She wants to watch British dramas; I’d rather watch comedies. She loves to sing and dance; I’d rather not. She prefers flying; I prefer driving. She loves to be with people, and I’d prefer to be alone. Kim is a driven, career-minded, goal-oriented woman, while I, on the other hand, am a laid-back fellow who prefers gardening and writing over anything else.

To put it simply, Kim is an extrovert while I am an introvert. Frankly, it sometimes amazes me that Kim and I even metlet alone got married!

But after knowing Kim for ten years, I knew that I simply couldn’t live without her.

Despite their many differences, the fish loved the bird and the bird loved the fish.

So we put our faith in that love and did the only thing a fish and a bird could do: we got married and built a bird bath.

The bird bath is a symbol for our middle ground—the place where we come together—but it’s also the place from which we feel comfortable to let each other go. To “let go” of someone is to love them enough to let them fly or swim away (or to be themselves) and yet trust that they will always come back.

For if we truly love each other, we have to be willing to “let each other go” to become the best versions of ourselves. Kim encourages me to keep swimming (develop my talents), and I encourage her to fly higher (chase her dreams).

Abusive, one-sided relationships are heartbreaking to me. How can we claim to love someone and then try to limit that person’s identity? Marriage is a union, to be sure, but it’s a union that should liberate, not incarcerate. Real love shouldn’t limit a person’s potential, it should expand it.

Buddies

Real love tells me to let Kim fly and trust that she’ll always come back. I have to let her go so she can chase her dreams, pursue her education, and develop her talents. Additionally, I have to let go of my fears that she might fly away and never come back. If the fish were to clip the bird’s wings, he would risk trimming her dreams and smothering her altogether.

That being said, I wish I could say that I’m perfect at letting my wife fly. But I’m not. In the end, we’re still two very different people. I have some deeply rooted insecurities, and we’ve had to learn to navigate each other’s personalities.

But while I certainly can’t tell you that I’m perfect, I can tell you that every time I’ve encouraged Kim to fly she loves me all the more for supporting her and having the faith to let her go.

So, if you truly love someone, have the faith to “let them go.” Encourage them to be the fullest measure of themselves, and you will be overwhelmed by the love that your spouse returns to you.

** I am well aware that the fish and the bird comment comes from “Fiddler on the Roof”/”Ever After”. Kim probably heard that line from one of those movies. I’m simply reporting what she said to me in that moment, not trying to credit her with being the original source for saying it.

Oh, this is nice…… and accurate…. and lovely life lesson.

Kemasan Memori

Sebuah ikatan pasti mempunyai suatu sejarah masing-masing bagaimana kedua utas atau lebih benang merah bisa saling terkait. Kadang apa yang terlalu terikat dengan kita berhasil membuat kita dilema akan masa lalu. Terlena dan menghanyutkan.

Tak perlu malu. Semua orang punya masa lalu. Masa depan tak akan pernah ada tanpa masa lalu. Tinggal bagaimana cara kita mengemasnya.

"Beberapa orang mengemasi masa lalu mereka dibuang. Beberapa lagi, untuk dibuka pada hari kemudian, yang entah kapan."  - Tia Setiawati

Well, I choose the second option.

Saya jg shock teh kemaren ke pvj sendirian setelah sekian lama, pake motor, parkirnya sampe 9500… Ya lama sih, tapi……..
See? Ada yang ga beres sama sistem retribusi layanan parkir di Kota Bandung. Menurut Perda, parkir motor itu hanya 1.000 untuk 2 jam pertama, baik di luar atau di dalam gedung parkir. Sisa duitnya… buat apa hayoh? Halal apa engga hayoh? Ini semacam pertanyaan retoris, "Babi, babi apa yang paling haram?" gitu deh ya.
ps. Lagi pulang ke Bandung, Ce?
pps. Temen gue pernah kok parkir mobil di PvJ abis 67 ribu rupiah… gara-gara dia lupa kalo dia ke PvJ bawa mobil.
ppps. Buat yang ga tau pertanyaan teka-teki di atas, jawabannya "Babi yang hamil anak Babi di luar nikah". TARAKDES. Anti-klimaks sekali.

"Untuk memenangkan ‘satu’, kamu perlu mengalahkan ‘banyak’. Egomu salah satunya."

Sederhana

Ari: "Lucu aja ya, interaksi manusia bisa makin dekat dengan lebih memaknai hal-hal yang sederhana."
Faishal: "Iya, itulah fitrah manusia sesungguhnya. Kesederhanaan."
Akhirnya saya kembali menggunakan Twitter saya.
Yah, akhirnya setelah genap 90 hari tidak dipakai. Coba ditanya dong, "Emang dipakai buat apa, Ri?".
Buat ngeluh. (Tuh kan)
Tapi kali ini saya punya alibi untuk mengeluh dan saya rasa kali ini keluhan saya memang harus disiarkan lewat Twitter.
—
Jadi gini, saya pagi-pagi ke RSM Cicendo Bandung. Saya parkir di tempat biasa saya parkir, di dekat Gedung Pakuan yang digunakan sebagai kediaman resmi Gubernur Jawa Barat. Dua hal yang mesti diingat: (1) tempat parkir itu resmi karena ada marka parkirnya, (2) saya jarang parkir di dalam RSM karena penuh dan saya rasa lebih fungsional kalo dipakai oleh pasien dibanding sama saya. Saya udah akrab sama tukang parkir sini karena memang ramah dan sering bantu saya jaman saya belum lancar parkir paralel. Oke, pada saat saya mau parkir, saya celingak-celinguk dulu "Mana nih si Abang Parkir biasanya…", munculah seorang Juru Parkir yang lain, yang saya baru liat seumur-umur bolak-balik ke RSM Cicendo. Parkir saya pun diaba-abakan seperti pada umumnya dan berjalan lancar.
Satu hal yang aneh ketika saya siap-siap masukin barang-barang ke tas dan mau turun mobil, saya melihat Jurkir itu mencatat nopol mobil saya di secarik kertas dan diam di samping mobil, nungguin saya sampe keluar mobil. Dalam hati jujur aja sih udah ga enak, tapi Islam selalu mengajarkan husnuudzan bukan? Saya akhirnya husnuudzan aja, meski tersirat ragu.
Turun dari mobil, saya ditodong gitu aja sama kertas retribusi parkir. Oke lah, ga masalah kalau harus bayar sekarang. Saya udah rogoh saku ambil 2.000 rupiah BERDASARKAN Perda no. 16 tahun 2012 tentang retribusi pelayanan parkir (iya perda yang nongol di karcis itu). Jurkirnya santai banget terus bilang….. “Limaribu, Neng”.
Speechless.
Masalah banget ya Ri kalo bayar goceng?
Engga, ga masalah. Jurkir langganan saya di belakang Gedung Pendidikan FK Unpad/ RSHS aja saya sering kok kasih 5.000 karena beliau memang helpful, informatif, dan sering mengingatkan seperti, "Dok, jangan taro laptop di mobil ya Dok", "Dok, awas itu kaca belakang mobilnya kurang rapet", "Dok, hati-hati ya di Jalan Kesehatan, suka ada jambret", dsb. (bahkan saking respeknya saya panggil beliau), begitupun dengan abang Jurkir biasa yang jadi langganan saya di Cicendo. Tapi ini…… Ah sudahlah. Kejujuran masih mahal harganya di Indonesia memang.
Pada akhirnya, saya relakan aja goceng melayang dari saku saya. Saya gatau sisa 3.000 rupiah yang diterima Jurkir tersebut mau diapakan, halal apa engga, yang pasti sudah saya laporkan ke Wali Kota dan Dinas Perhubungan Kota Bandung via Twitter. Alhamdulillah, tweet saya sudah difavoritkan oleh kedua akun tersebut, tanda sudah dibaca dan ditandai oleh Pak Ridwan Kamil dan Dinas Perhubungan Kota Bandung.
Yah, sekali-kali mengeluh di media sosial ada manfaatnya ternyata. Asal jangan keseringan aja kali ya.

Akhirnya saya kembali menggunakan Twitter saya.

Yah, akhirnya setelah genap 90 hari tidak dipakai. Coba ditanya dong, "Emang dipakai buat apa, Ri?".

Buat ngeluh. (Tuh kan)

Tapi kali ini saya punya alibi untuk mengeluh dan saya rasa kali ini keluhan saya memang harus disiarkan lewat Twitter.

Jadi gini, saya pagi-pagi ke RSM Cicendo Bandung. Saya parkir di tempat biasa saya parkir, di dekat Gedung Pakuan yang digunakan sebagai kediaman resmi Gubernur Jawa Barat. Dua hal yang mesti diingat: (1) tempat parkir itu resmi karena ada marka parkirnya, (2) saya jarang parkir di dalam RSM karena penuh dan saya rasa lebih fungsional kalo dipakai oleh pasien dibanding sama saya. Saya udah akrab sama tukang parkir sini karena memang ramah dan sering bantu saya jaman saya belum lancar parkir paralel. Oke, pada saat saya mau parkir, saya celingak-celinguk dulu "Mana nih si Abang Parkir biasanya…", munculah seorang Juru Parkir yang lain, yang saya baru liat seumur-umur bolak-balik ke RSM Cicendo. Parkir saya pun diaba-abakan seperti pada umumnya dan berjalan lancar.

Satu hal yang aneh ketika saya siap-siap masukin barang-barang ke tas dan mau turun mobil, saya melihat Jurkir itu mencatat nopol mobil saya di secarik kertas dan diam di samping mobil, nungguin saya sampe keluar mobil. Dalam hati jujur aja sih udah ga enak, tapi Islam selalu mengajarkan husnuudzan bukan? Saya akhirnya husnuudzan aja, meski tersirat ragu.

Turun dari mobil, saya ditodong gitu aja sama kertas retribusi parkir. Oke lah, ga masalah kalau harus bayar sekarang. Saya udah rogoh saku ambil 2.000 rupiah BERDASARKAN Perda no. 16 tahun 2012 tentang retribusi pelayanan parkir (iya perda yang nongol di karcis itu). Jurkirnya santai banget terus bilang….. “Limaribu, Neng”.

Speechless.

Masalah banget ya Ri kalo bayar goceng?

Engga, ga masalah. Jurkir langganan saya di belakang Gedung Pendidikan FK Unpad/ RSHS aja saya sering kok kasih 5.000 karena beliau memang helpful, informatif, dan sering mengingatkan seperti, "Dok, jangan taro laptop di mobil ya Dok", "Dok, awas itu kaca belakang mobilnya kurang rapet", "Dok, hati-hati ya di Jalan Kesehatan, suka ada jambret", dsb. (bahkan saking respeknya saya panggil beliau), begitupun dengan abang Jurkir biasa yang jadi langganan saya di Cicendo. Tapi ini…… Ah sudahlah. Kejujuran masih mahal harganya di Indonesia memang.

Pada akhirnya, saya relakan aja goceng melayang dari saku saya. Saya gatau sisa 3.000 rupiah yang diterima Jurkir tersebut mau diapakan, halal apa engga, yang pasti sudah saya laporkan ke Wali Kota dan Dinas Perhubungan Kota Bandung via Twitter. Alhamdulillah, tweet saya sudah difavoritkan oleh kedua akun tersebut, tanda sudah dibaca dan ditandai oleh Pak Ridwan Kamil dan Dinas Perhubungan Kota Bandung.

Yah, sekali-kali mengeluh di media sosial ada manfaatnya ternyata. Asal jangan keseringan aja kali ya.

Ya Kalo Bapaknya Dosen Pembimbing PKL Mahasiswa Ya Gini Jadinya

Adegan di sebuah sinetron, Morgan dan Nikita Willy sedang berada di sebuah balkon...
Morgan: "Sudah tiba saatnya, aku harus meninggalkanmu. Jangan pakai baju terbuka, jangan terima adegan film dewasa, dan jangan hitung bintang di langit setiap malam. Tidak mungkin kamu menemukan saya di sana, saya akan meninggalkan bumi ini..." (lalu triiing menghilang)
Nikita: "Morgan, kamu mau kemana? Jangan pergi! Jangan pergi sebelum aku mengucapkan selamat tinggal padamu! Hiks... huhuhu" (Nikita nangis bombay)
Sementara itu...
Bokap gue: (lagi buka laporan KP mahasiswa) (ngedengerin percakapan di TV) (lalu nyeletuk dengan tampang polos) "Lah, emang si Morgan lagi PKL di bumi ya?"

Musibah Jangan Jadi Becandaan Ah

Reuni geng SMA
U: "O, seragam kerja maneh emang roknya harus sependek itu ya?"
O: "Aduh, gue teh sebenernya lebih suka pake celana panjang gitu, kan kebetulan di bank gue boleh pake celana panjang..."
O: "Eh, pas gue mau beli bahan celana panjang, Kings (pusat perbelanjaan kain dan tekstil grosir terbesar dan termurah di Bandung -red.) malah kebakaran kan barusan..."
O: "Ya udah....... gue bertahan deh pake rok mini kaya gini.........." (terus nyengir)
Hening 5 detik
A: "Kok aing pengen marah yah denger cerita maneh..."
U: "Urang kira serius ini ceritanya, ini mah emang maunya maneh aja......"
F: "Buang-buang waktu denger cerita maneh. Kalo maneh niat mah udah beli kain dari dulu, ga usah nunggu Kings kebakaran kali."

Berkicau

image

Saya sudah tidak aktif menggunakan Twitter. Tweet terakhir saya berisi tentang pengalaman saya menyetir di tol sendirian saat hujan besar yang disertai petir menggelegar sekitar 77 hari yang lalu. Ketika masa-masa saya diperbolehkan membawa mobil kembali oleh orang tua saya. Setelah itu, voila, sama sekali tidak ada update terbaru di sana.

Ga nyangkal juga sih, mengaktifkan kembali Path dan membuat Instagram berhasil membuat Twitter tersingkirkan. Bukan, bukan karena fiturnya. Ini hanya karena prinsip saya doang sih kayanya. Saya selama ini selalu membagikan kekesalan atau kejengkelan saya di Twitter, itu alasan utama. Sebagai manusia yang kecil di hadapan-Nya, lumrah memang ketika kita mempertanyakan tentang sebuah kekurangan dalam hidup kita, tapi saya rasa tidak untuk disebar. You are what you share.

Kalo selama ini saya suka share kejengkelan saya, jangan-jangan saya ini emang benerin ngejengkelin orangnya? Emang ngeselin? Ga ada yang tau kan.

Saya sendiri males banget kalo ada seorang pelaku media sosial yang menggunakan media sosial untuk sekedar “berbagi aura negatif” (istilah saya pribadi -red). Ya memang di pasal 28 UUD RI 1945 ada bahasan tentang kemerdekaan mengemukakan pendapat, baik lisan maupun tulisan. Tidak ada yang pernah melarang untuk mengeluh di sosial media, tidak ada. Tapi tidak ada juga larangan untuk menilai kepribadian seseorang dari penggunaan sosial medianya kan? Ya itu sudah resiko untuk zaman dengan teknologi mutakhir seperti ini. There are many things of which a wise man might wish to be ignorant, man. Kadang kepo emang bikin sakit hati.

Jadi intinya apa? Saya cuma mau ngabarin aja, saya udah jarang buka Twitter. Alasannya kenapa, ya itu alasannya. Saya sekarang pakai Tumblr, Instagram, Path, Line, WhatsApp, BBM, dan Skype. Facebook hanya dipakai untuk keperluan kerjaan. Pinterest hanya untuk menandai desain-desain inspiratif. Saya sedang ingin mengontrol sosial media saya agar diri saya tidak terkontrol oleh sosial media. Tamat. Selesai. The end. Eind. Zum ende. .

"All of a sudden, we’ve lost a lot of control. We can’t turn off our internet; we can’t turn off our smartphones; we can’t turn off our computers. You used to ask a smart person a question. Now, who do you ask? It starts with g-o, and it’s not God.” - Steve Wozniak

Yours,

Ari Sri Wulandari

ps. Saya kadang-kadang masih membuka Twitter untuk sekedar membaca linimasa saja.